Selamat Datang di TOKO AZZAM 7
Tampilkan postingan dengan label Shirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shirah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 5

Hamzah sang Singa Allah

Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu. Sejak muda, paman Rasulullah ini memang hobi dan gemar berburu binatang.

Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di tempat perburuan tanpa mendapatkan hasil, ia pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, ia lebih dulu mampir di Ka'bah untuk melakukan thawaf.

Sebelum sampai di Ka'bah, seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud'an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,"Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya."

Usai mendengarkan panjang lebar peristiwa yang dialami oleh keponakannya, Hamzah terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Ia kemudian membawa busur dan anak panahnya, kemudian bergegas menuju Ka'bah dan berharap dapat bertemu Abu Jahal di sana.

Sampai di Ka'bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Dengan tenang Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur. Darah segar mengucur deras dari dahinya.

"Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu kepadaku jika kamu berani!" bentak Hamzah kepada Abu Jahal.

Dalam beberapa saat, orang-orang yang berada di sekitar Ka'bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.

Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,"Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas."

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ia adalah paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar. Pada Perang Uhud syahid dan Rasulullah menjulukinya dengan "Asadullah" (Singa Allah) dan menyebutnya "Sayidus Syuhada" (Penghulu atau Pemimpin Para Syuhada).


Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berpikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum Muslimin berpendapat, perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Oleh sebab itu, ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum Muslimin lainnya.

Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama Islam lebih mendalam. Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah Islam.

Pada Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah sebagai salah seorang komandan perang. Ia dan Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang.

Kaum kafir Quraisy tidak mau menelan kekalahan begitu saja, maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas. Akhirnya, tibalah saatnya Perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum Muslimin. Sasaran utama perang itu adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Seorang budak bernama Washyi bin Harb diperintahkan oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan dimerdekakan dan mendapat imbalan yang besar pula jika berhasil menunaikan tugasnya.

Akhirnya, setelah terus-menerus mengintai Hamzah, Wahsyi melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Tak lama kemudian, Hamzah wafat sebai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benak beliau bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,"Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini."

Setelah itu, Rasulullah dan kaum Muslimin menyalatkan jenazah Hamzah dan para syuhada lainnya satu per satu.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud Al-Ghabah, mengatakan dalam Perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu saat ia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya. Namun Hindun memuntahkannya kembali karena bisa menelannya.

Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS An-Nahl: 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq Sirah-nya, bahwa Ummayyah bin Khalaf bertanya pada
Abdurahman bin Auf, "Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?"

"Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib," jawab Abdurrahman bin Auf.

"Dialah yang membuat kekalahan kepada kami," ujar Khalaf.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang dua bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis.

Sabtu, Mei 4

Mush'ab bin Umair

Mush’ab bin Umair salah seorang di antara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita memulai kisah dengan pribadinya :
Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kepe­mudaan.

Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kepemudaannya dengan kalimat : “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”.

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya.
Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah ceritera tentang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan ?
Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush’ab bin Umair atau “Mush’ab yang baik”, sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam.

Tetapi corak pribadi manakah...?
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah ter­ sebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad Al-Amin...Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da’i yang mengajak ummat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi bush pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu.

Walaupun usianya masih belia, tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah. Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajarnya ayat-ayat al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.
Baru saja Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran pada kalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam.


Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas — berlipat ganda dari ukuran usianya — dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah...!
Tetapi di kota Mekkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.
Ia mendapatkan ibu Mush’ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ke­ taqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai — demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan — menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush’ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Men­dengar berita hijrah ini Mush’ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi melindungkan diri.
Ia tinggal di sana bersama saudara saudaranya kaum Muhajjirin, lalu pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat. la telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah dicontohkan Rasulullah.
Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengurbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar...


Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Mus­limin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Demi me­ mandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka — pakaiannya sebelum masuk Islam — tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda : "Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."


Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patut beroleh kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri.
Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bile rencana itu dilakukan.
Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata :
“Pergilah sesuka hatimu ! Aku bukan ibumu lagi”.
Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata :
“Wahai bunda ! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.
Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut :
“Demi bintang ! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.

Demikian Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.
Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani...


Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit ‘Aqabah.
Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.
Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da’i dan da’wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit ‘Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian ‘Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair. Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam atas dirinya itu tepat.
Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka...


Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dan Allah, menyampaikan kalimattullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.
Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya.

Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan me­nyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing‑masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.

Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam — yang diserukan beribadah kepada-Nya — oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-Nya.
Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut.
Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zararah, bentaknya : “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami ? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang !”.

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam...., laksana tenang dan damainya cahaya fajar...., terpancarlah ketulusan hati “Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya : “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu ? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu !”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta petimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
“sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembing­ nya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan da’wah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya.
Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya : “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu...! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini ?”

Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab : “Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.
Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. Dan setelah mendengar uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Tbadah dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka : “Jika Usaid bin Hudlair, Sa’ad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu...Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya ! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya !”.
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.


Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah. Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih.
Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan.
Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera.
Maka terpanggillah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi ke­kalahan. Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang tengah kacau balau.
Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Mush’ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka di­ acungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan aungan singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara....

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar.
Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam....Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.


Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush’ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa’ad : “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-’Abdari dari bapaknya, ia berkata, “Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya.
Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.
Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah.

Mushab pun gugur, dan bendera jatuh “. Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera...la gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada...
Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya.

Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangan­ nya, dihiburnya dirinya dengan ucapan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.
Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Quran yang selalu dibaca orang.
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia....Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam mem­bela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.


Wahai Mush’ab, cukuplah bagimu ar-Rahman...
Namamu harum semerbak dalam kehidupan...
Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat : “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mushab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw : “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir !”

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi.
Dan betapapun penuhnya Medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya....Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya.....

Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat : Di antara orang-orang Mu'min terdapat pahlawan pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah. Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda : Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut Masai, hanya dibalut sehelai burdah.
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu kearah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru : Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah. Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, Sabdanya : Hai manusia ! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam !
Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab, Salam atasmu wahai para syuhada...!


Sumber : Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah yang disusun oleh Khalid Muhammad Khalid dan telah dialih bahasakan oleh Mahyuddin Syaf, dkk...
diterbitkan oleh CV Penerbit Diponegoro Bandung

Rabu, April 24

Bilal Bin Rabbah

Bila disebut nama Abu Bakar, maka Umar akan berkata: “Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita”. Maksudnya ialah Bilal …. seorang yang diberi gelar oleh Umar “pemimpin kita”, tentulah suatu pribadi besar yang layak memperoleh kehormatan seperti itu! Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, maka laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis — sebagai dilukiskan oleh ahli-ahli riwayat — akan menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta dengan air mata mengalir membasahipipinya, akan berkata: “Saya ini hanyalah seorang Habsyi, dan kemarin saya seorang budak belian!”
Nah, siapakah kiranya orang Habsyi yang kemarin masih jadi budak belian ini…? Itulah dia Bilal. Bin Rabah, muaddzin Islam dan penggoncang berhala yang dipuja Quraisy sebagai tuhan! la merupakan salah satu keajaiban iman dan kebenaran! Salah satu mujizat Islam yang maka besar!

Dari tiap sepuluh orang, semenjak munculnya Agama itu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja dikehendaki Allah, kita akan menemukan sedikitnya tujuh orang yang kenal terhadap Bilal. Artinya dalam lintasan kurun dan generasi, terdapat jutaan manusia yang mengenal Bilal; hafal akan namanya dan tahu riwayatnya secara lengkap, sebagaimana mereka kenal akan dua Khalifah terbesar dalam Islam (Abu Bakar dan Umar).
Anda akan dapat menanyakan kepada setiap anak yang masih merangkak pada tahun-tahun pelajaran dasarnya; baik di Mesir, Pakistan, Indonesia atau Cina… di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa dan Asia…di Irak, Syria, Turki, Iran dan Sudan… di Tunisia, Aljazair, dan Maroko…pendeknya di seluruh permukaan bumi yang didiami oleh Kaum Muslimin …. anda akan dapat menanyakan kepada setiap remaja Islam: “Siapakah Bilal itu, wahai buyung?” Tentulah akan keluar jawabannya yang lancar: “Ia adalah muaddzin Rasul. Asalnya seorang budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar ia meninggalkan Islam, tetapi jawabnya: “… Ahad…Ahad.. Allah Yang Maha Tunggal…Allah Yang Maha Tunggal…! “
Dan setelah anda lihat keabadian yang telah dianugerahkan Islam kepada Bilal…, bahwa sebelum Islam, Bilal ini tidak lebih dari seorang budak belian; yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma! Tanpa Islam, pastilah ia takkan luput dari kenistaan perbudakan — sampai maut datang merenggutnya — setelah itu orang melupakannya….

Tetapi kebenaran iman dan keagungan Agama yang diyakini-nya telah meluangkan baginya dalam kehidupan dan riwayat hidup, suatu kedudukan tinggi pada deretan tokoh-tokoh Islam dan orang-orang sucinya…! Banyak di antara orang-orang terkemuka — golongan berpengaruh dan mempunyai harta —yang tidak berhasil mendapatkan agak sepersepuluh dari keharuman nama yang diperoleh Bilal si Budak Habsyi ini… ! ‘Bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh sejarah yang tidak mencapai  separoh kemasyhuran yang dicapai oleh Bilal!
 Kehitaman warna kulit; kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak belian, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian dan kesungguhannya setelah ia memasuki Agama Islam.  Semua itu adalah karena dalam neraca penilaian dan penghormatan yang diberikan kepadanya, tak ada perhitungan lain kecuali kekaguman; yakni ketika dijumpai kebesaran yang tidak terduga.

Orang menyangka bahwa seorang hamba seperti Bilal, biasanya asal-usulnya tidak menentu; tidak berdaya dan tidak mempunyai keluarga, serta tidak memiliki suatu hak pun dari hidupnya. Dirinya adalah milik tuannya yang telah membeli dengan hartanya, dan kerjanya berada di tengah hewan ternak, pulang balik di antara unta dan domba tuannya. Menurut dugaan mereka, makhluq seperti ini takkan mampu melakukan sesuatu, atau menjadi sesuatu yang berarti!

Kiranya ia berbeda dengan spa yang disangka dan diperkirakan itu. Karena ia mampu mencapai derajat keimanan yang tidak mungkin dicapai oleh lainnya …. lalu menjadi muaddzin pertama bagi Rasulullah dan Islam; suatu aural yang menjadi inceran bagi setiap pemimpin dan pembesar Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasul.
Benar…, Bilal bin Rabah!

Corak kepahlawanan apakah, dan bentuk kebesaran  manakah yang ditonjolkan oleh ketiga kata-kata ini, “Bilal bin Rabah…?” Ia seorang Habsyi dari golongan orang berkulit hitam. Taqdir telah membawa nasibnya  menjadi budak dari Bani Jumah di kota Mekah, karena  ibunya salah seorang hamba sahaya mereka.

Kehidupannya tidak berbeda dengan budak biasa.  Hariharinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari itu, tidak pula menaruh harapan pada hari esok. Dan berita-berita mengenai Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mulai sampai ke telinganya, yakni ketika orang-orang di Mekah menyampaikan-nya dari mulut ke mulut. Juga ketika mendengar obrolan majikannya bersama tetamunya; terutama majikannya Umayah bin khdaf, salah seorang pemuka Bani Jumah, yaitu kabilah yang menjadi majikan yang dipertuan oleh Bilal.

Lamalah sudah didengarnya Umayah ketika membicarakan Rasulullah, baik dengan kawan-kawannyamaupun sesama warga sukunya; mengeluarkan kata-kata berbisa; penuh dengan rasa amarah, tuduhan dan kebencian. Di antara apa yang dapat ditangkap oleh Bilaldari ucapan kemarahan yang tidak berujung pangkal itu,ialah sifat-sifat yang melukiskan Agama baru baginya. Dan menurut hematnya, sifat-sifat itu merupakan hal-halbaru dipandang dari sudut lingkungan di mana ia tinggal. Sebagaimana juga di antara ucapan-ucapan yang keraspenuh ancaman itu, tapi pula kedengaran olehnyapengakuan mereka akan kemuliaan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,
tentang kejujuran dan keterpercayaannya…

Benar, didengarnya mereka ta’jub dan keheranan terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam! Sebagian mereka mengatakan kepada yang lain: “Tidak pernah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berdusta atau menjadi tukang sihir… tidak pula sinting atau berubah akal…, walau kita terpaksa menuduhnya demikian, demi untuk membendung orang-orang yang berlomba-lomba  memasuki Agamanya!”

Didengarnya mereka mempercakapkan kesetiaannya menjaga amanat…, tentang kejujuran dan ketulusannya –.., tentang akhlaq dan kepribadiannya …. Didengarnya pula mereka berbisik-bisik mengenai sebab yang mendorong mereka menentang dan memusuhinya, yaitu: pertama kesetiaan mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan nenek moyangnya; dan kedua kekhawatiran merosotnya kemuliaan Quraisy, kemuliaan yang mereka peroleh sebagai imbalan kedudukan mereka menjadi markas keagamaan, sebagai pusat ibadat dan upacara haji di serata jazirah Arab…, kemudian kedengkian terhadap Bani Hasyim, kenapa munculnya Nabi dan Rasul itu dari golongan ini dan bukan dari fihak mereka..

Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat Nur Ilahi dan mendengarimbauannya dalam lubuk hatinya yang sucimurni. Maka ia mendapatkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Dan menyatakan keislamannya. Dan tidak lama antaranya, berita rahasia keislaman Bilal terungkaplah …. Dan beredar di antara kepala tuan-tuannya dari Bani Jumah, yakni kepala-kepala yang selama ini ditiup oleh kesombongan dan ditindih oleh kecongkakan… ! Maka setan-setan di muka bumi tampillah bermunculan dan bersarang dalam dada Umayah bin Khalaf, yang menganggap keislaman seorang hambanya sebagai tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan mereka semua ….
Apa… ? Budak mereka orang Habsyi itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad… ? Walaupun demikian, tidak apa! kata Umayah dalam hatinya. “Matahari yang terbit hari ini takkan tenggelam dengan Islamnya budak durhaka itu…! ” Memang, bukan saja  sang surya itu tidak tenggelam dengan Islamnya Bilal,  tetapi pada suatu hari kelak matahari akan tenggelam dengan membawa semua patung-patung dan pembela pembela berhala itu…!

Mengenai Bilal, tidak saja ia beroleh kedudukan yang merupakan kehormatan bagi Agama Islam semata — walau Islam memang lebih berhak untuk itu — tetapi juga merupakan kehormatan bagi perikemanusiaan umumnya…! la telah menjadi sasaran berbagai macam siksaan sebagai dialami oleh tokoh-tokoh utama lainnya.
Seolah-olah Allah telah menjadikannya sebagai tamsil perbandingan bagi ummat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan, sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, asal saja ia beriman dan taat kepada Tuhannya serta memegang teguh haq-haqnya ….

Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang-orang di segala masa; bagi orang-orang yang seagama dengannya, bahkan bagi pengikut pengikut agama lain; suatu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tak dapat dibeli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya…!
Dalam keadaan telanjang ia dibaringkan di atas bara, dengan tujuan agar ia meninggalkan Agamanya atau mencabut pengakuannya, tetapi ia menolak ….

Maka budak Habsyi yang lemah tidak berdaya ini telah dijadikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Agama Islam sebagai guru bagi seluruh kemanusiaan dalam soal menghormati hati nurani dan mempertahankan kebebasan serta  kemerdekaannya.
Pada suatu ketika, di tengah hari bulat; waktu padang
 pasir berganti rupa menjadi neraka jahannam, mereka membawanya ke luar, lalu melemparkannya ke pasir yang bagai menyala dalam keadaan telanjang, kemudian beberapa orang laki-laki mengangkat batu besar panas laksana bara, dan menjatuhkannya ke atas tubuh dan dadanya ….

Siksaan kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, hingga karena dahsyatnya lunaklah hati beberapa orang di antara algojo-algojo yang menaruh kasihan kepadanya. Mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja ia mau menyebut nama tuhan-tuhan mereka secara baik-baik walau dengan sepatah kata sekalipun — tak usah lebih — yang akan menjaga nama baik mereka di mata umum, hingga tidak menjadi buah pembicaraan bagi orang-orang Quraisy bahwa mereka telah mengalah dan bertekuk lutut kepada seorang budak yang gigih dan keras kepala.
Tetapi, walau sepatah kata pun yang dapat diucapkan bukan dari lubuk hatinya, dan yang dapat menebus nyawa dan hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal tak hendak mengucapkannya…!

Memang, ditolaknya mengucapkan hal itu, dan sebagai gantinya diulang ulanglah senandungnya yang abadi: “Ahad…! Ahad…! Allah Yang Maha Tunggal… ! Allah Yang Maha Tunggal…!” Pendera-pendera itu pun berteriak, bahkan  seakan-akan hendak memohon kepadanya: “Sebutlah Lata dan ‘Uzza!” Tetapi jawabannya tidak berubah dari: “Ahad…! Ahad…! ” “Sebutlah apa yang kami sebut!”, pinta mereka pula. Tetapi dengan ejekan pahit dan penghinaan yang mena’jubkan ia menjawab: “lidahku tak dapat  mengucapkannya…! “

Tinggallah Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu, hingga ketika hari petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu mereka suruh anak-anak untuk mengaraknya keliling bukit-bukit dan jalan-jalan kota Mekah, sementara Bilal tiada lekang kedua bibirnya melagukan senandung sucinya: “Ahad…! Ahad…!”

Berat dugaan kita, bahwa bila malam telah tiba, orangorang itu akan menawarkan padanya: “Esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap tuhan-tuhan kami,sebutlah:tuhanku Lata dan ‘Uzza…, nanti kami lepaskan dan biarkan kamu sesuka hatimu! Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Tetapi pastilah Bilal akan menggelengkan  kepalanya dan hanya menyebut: 

“Ahad…! Ahad. ! “

Karena tak dapat menahan gusar dan amarah murkanya, Umayah meninju sambil berseru: “Kesialan apa yang menimpa kami disebabkanmu, hai budak celaka?! Demi tuhan Lata dan ‘Uzza, akan kujadikan kau sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” Dengan keyakinan seorang Mu’min dan kebesaran seorang suci, Bilal menyahut: “Ahad…Ahad…”

 Orang-orang yang diserahi tugas berpura-pura menaruh kasihan kepadanya, kembali membujuk dan mengajukan tawaran, katanya kepada Umayah: “Biarkanlah ia wahai Umayah! Demi Lata dan ‘Uzza! Mulai saat ini ia takkan disiksa lagi! Bilal ini anak buah kami, bukankah ibunya sahaya kami…? Nah, ia takkan rela bila dengan keislamannya itu nama kami menjadi ejekan dan cemoohan bangsa Quraisy…!”

Bilal membelalakkan matanya menentang para penipu  dan pengatur muslihat licik itu, tetapi tiba-tiba  ketegangan itu menjadi kendur dengan tersunggingnya sebuah senyuman bagai cahaya fajar dari mulutnya. Dan dengan ketenangan yang dapat menggoncangkan dan mengarubirukan mereka, katanya: “Ahad…! Ahad     . ! “
Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat  menjelang, dan Bilal pun dibawa orang ke padang pasir, tetapi tetap shabar dan tabah, tenang tak tergoyah. Sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!” Kemudian katanya kepada Umayah binKhalaf: “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan ia…! “
Bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong, demikianlah halnya Umayah saat itu; hatinya lega dan merasa amat beruntung demi didengarnya Abu Bakar hendak menebus budaknya. la telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal. Apalagi mereka adalah orang orsaudagar, dengan dijualnya Bilal mereka melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya.

Dijualnyalah Bilal kepada Abu Bakar yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampillah mengambil tempatnya dalam lingkunganorang-orang merdeka…. Dan ketika as-Shiddiqmengepit Bilal membawanya ke alam bebas, berkatalah Umayah: “Bawalah ia! Demi Lata dan ‘Uzza, seandainharga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah ia akan kulepas juga!”

Abu Bakar ‘arif akan keputusasaan dan pahitnya  kegagalan yang tersirat dalam ucapan itu, hingga lebih  baik tidak dilayaninya.
Tetapi karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi saudara yang tberbeda dengan dirinya, maka jawabnya kepada U mayah: “Demi Allah, andainya kalian tak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!”
Kemudian pergilah Abu Bakar bersama shahabatnya itu kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya, maka saat itu pun tubah bagai hari rays besar juga…!

Dan setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Kaum Muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliaumensyari’atkan adzan untuk melakukan shalat. Maka siapakah kiranya yang akan menjadi muaddzin untshalat itu sebanyak lima kali dalam sehari semalam… yang suara takbir dan tahlilnya akan berkumandang ke seluruh pelosok…? Ialah Bilal…, yang telah menyerukan: “Ahad… ! Ahad… ! Allah Maha Tunggal… ! Allah Maha Tunggal…!” semenjak 13 tahun yang lalu, sementara siksaan membantai dan menyelai tubuhnya.

Pada hari itu pilihan Rasulullah jatuh atas dirinyasebagai muaddzin pertama dalam Islam. Dan dengansuaranya yang merdu dan empuk diisinya hati dengan keimanan dan telinga dengan keharuan, sementara seruannya menggemakan:
 “Allahu Akbar… Allahu Akbar Allahu Akbar …Allahu Akbar
Asyhadu allailaha illallah
Asyhadu allailaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu
anna Muhammadar Rasulullah Hayya ‘alas shalah
Hayya ‘alas shalah
Hayya ‘alal falah
Hayya alai falah
Allahu Akbar… Allahu Akbar La ilaha illallah… “.
Antara Kaum Muslimin dan tentara Quraisy yang  datang menyerang Madinah terjadi peperangan…. Pertempuran berkecamuk dengan amat sengit dadahsyat…, sementara Bilal maju dan menerjang dalamperang pertama yang diterjuni Islam itu, yaitu Bakar…, yang sebagai semboyannya dititahkan oleh Rasulullahmenggunakan ucapan: “Ahad…! Ahad…! “

Dalam peperangan ini Quraisy mengerahkan tenaga intinya,  dan pemuka pemukanya terjun untuk akhirnyamenemui tempat pembantaian mereka…! Pada mulanya Umayah bin Khalaf, yaitu  bekas majikan Bilal yang telah menyiksanya secara kejam dan biadab, tak hendak ikut d alam peperangan itu. Tetapi demi mendengar keengganan dan sifat pengecutnya itu, maksalah seorang di antara kawannya yang bernama ‘Uqbah bin Abi With mendatanginya sambil di tangan kanannyamembawa sebuah mijmar — pedupaan yangdipergunakan wanita untuk mengasapi tubuhnya dengan kayu wangi —.
Setelah sampai dan ia berhadapan muka denganUmayah Yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengaanak buahnya, ditaruhlah pedupaan itu di hadapannya seraya berkata: “Hai Abu Ali! Terimalah danpergunakanlah pedupaan ini. Karena kamu tak lebih darseorang wanita!”

 “Keparat! apa yang kau bawa ini?, teriak Umayah  dengan seramnya. Tetapi tak dapat mengelak terpaksa  akhirnya ia turut dalam peperangan itu bersama kawakawannya ….
Amboi, rahasia taqdir apakah kiranya yang tersembunyi di balik peristiwa ini…? Uqbah bin Mu’ith adalah seorang yang paling gigih mendorong Umayah untuk melakukan siksaan terhadap Bilal dan orang-ortak berdaya lainnya dari Kaum Muslimin  Dan sekaraia pulalah yang mendesaknya supaya ikut dalam Perang Badar, tempat ia akan menemui ajalnya…! Tetapi juga tempat tewasnya‘Uqbah itu sendiri tanpa kecuali…

Mulanya Umayah keberatan dan enggan untuk ikut dalam peperangan…, dan kalau bukanlah karena desakan Uqbah dengan cara sebagai kita ketahui itu, tidaklah ia hendak mengambil bagian di dalamnya…
Tetapi rencana Allah pasti berlaku!
Umayah harus ikut. Ada piutang lama antara diri dengan salah seorang hamba Allah yang datang saatnya untuk diselesaikan. Allah tak pernah mati, dan sebagaimana kalian memperlakukan orang demikianpula kalian diperlakukan orang!

Dan taqdir ini gemar sekali mempermainkan orangsombong dan aniaya! Uqbah yang kata-katanya didengaroleh Umayah dan kemauannya untuk menyiksa orangorang Mu’min yang tak berdosa diturutnya, justeru yang menyeretnya ke liang kubur…!
Kemudian di tangan siapakah Di tangan Bilal…, tidak lain di tangan Bilal sendiri! Tangan yang oleh Umayah dulu diikat dengan rantai, sedang pemiliknya didera disiksa.

Maka tangan inilah pula pada hari itu — ya’ni di waktu perang Badar — suatu saat yang tepat dan diatur oleh  taqdir, yang telah menyelesaikan utang piutang dan membuat perhitungan dengan algojo-algojo Quraisy yang telah menimpakan penghinaan dan kedhaliman terhadap orang-orang Mu’min…! Peristiwa ini terjadi secasempurna, tanpa ditambah atau dibumbui…!

Ketika pertempuran di antara dua pihak telah mulai, dan barisan Kaum Muslimin maju bergerak dengan semboyannya: “Ahad…! Ahad…!’,’maka jantungUmayah pun bagai tercabut dari urat akarnya dan rasa takut mengancam dirinya… Kalimat yang kemardiulang-ulang oleh hambanya di bawah tekanan siksadan dera, sekarang telah menjadi semboyan dari suatu Agam a secara utuh, dan dari suatu ummat yang baru secara keseluruhan… ! “Ah ad ! Ahad…!” Demikianldan dengan kecepatan seperti ini…, serta pertumbuhan yang demikian besar…?

Pertempuran telah berkecamuk dan pedang bertemu pedang
Ketika perang telah hampir usai, kelihatanlah oleh Umayah, abdurrahman bin ‘Auf, seorang shahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Maka segera ia melindungkan diri kepadanya, dan meminta untuk menjadi tawanannya;dengan harapan akan dapat menyelamatkan nyawanya  ….

Permintaan itu dikabulkan oleh Abdurrahman yang bersedia melindunginya,dan di tengah-tengah hirukpikuknya perang dibawan yalah Umayah ke tempat orang-orang tawanan. Di tengah jalan ia kelihatan olehBilal,
yang segera berseru: “Ini  dia… gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf! Biar aku mati daripada orang ini selamat…! “

Sambil menyatakan itu diangkatlah pedangnya hendak
 memenggal kepala yang selama ini menjadi besar  disebabkan kecongkakan dan kesombongan. “Hai Bilal, ia tawananku! ” seru Abdurrahman. “Tawanan –.. ? ujar bilal, ‘padahal pertempuran masih berkobar dan roda  peperangan masih berputar… ? ” la diterima sebagai tawanan…, padahal belum lama berselang senjatanya terhunjam di tubuh Kaum Muslimin yang sampai sekarang masih meneteskan darahnya…? Tidak…! bagi Bilal itu artinya berolok-olok dan penindasan. Dan cukuplah selama ini Umayah berolok-olok dan melakukan penindasan. la telah menindas demikian rupa, hingga hari ini tak ada lagi kesempatan tersisa, dalam keadaan segawat ini… dalam akibat yang menentukan ini!
orang kafir, Umayah bin Khalaf…! Biar aku mati daripada dia lolos…! “

Berdatanganlah serombongan Kaum Muslimin dengan pedang penyebar maut di tangan mereka dan mengepung Umayah bersama puteranya — yang berperang di pihak Quraisy — sementara Abdurrahman bin Auf tak dapat berbuatapa pun, bahkan juga tidak dapat melindungibajunya  yang telah terkoyak koyak oleh desakan orang  banyak.

Bilal memandangi tubuh Umayah yang telah rubuh oleh tebasan pedang-pedang itu dengan lama sekali, kemudian ia bergegas meninggalkan tempat itu, sementara suaranya yang nyaring mengumandangkan: “Ahad…! Ahad

Menurut hemat saya, bukanlah haq kita untuk membahas keutamaan toleransi dari pihak Bilal dalam suasana seperti itu …. Tetapi seandainya pe antara Bilal dengan Umayah terjadi pada suasana lain,  maka bolehlah kita meminta kepadanya agar memma’af, yang tak mungkin ditolak oleh orang yang seperti
Bilal keimanan dan ketaqwaannya.

Hanya sebagai kita ketahui, mereka bertemu di medan laga, masing-masing pihak mendatanginya dengan tujuan untuk menghancurkan pihak. lawannya….Pedang dan tombak herkelebatan…para korban b erguguran – – –, dan maut merajalela berseliweran…! Tiba-tiba pada saat seperti itu Bilal melihat Umayah, yang tak sejengkal pun dari tubuhnya luput dari bekas kekejaman dan adzab siksa Umayah!

Lalu di manakah dan betapa tampak olehnya…? Dilihatnya dalam kancah pertempuran; memenggal kepala Kaum Muslimin yang ditemui Umayah, dan seandainya ia beroleh kesempatan untuk memenggalkepala Bilal pada saat itu, tentulah tidak akan disiasiakannya! Nah, dalam keadaan seperti demikiankedualakilaki itu berhadapan  muka! Maka tidaklah admenurutlogika,bilakita bertanya  kepada Bilal, kenapa ia tak hendak memberi ma’af dengan sebaik-baiknya…!

Hari-hari berlalu… dan Mekah dibebaskan…. Dengan mengepalai sepuluh ribu Kaum Muslimin, Rasulullah memasuki kota itu,bersyukurmengucapkan takbir. Beliau langsung menuju Ka’bahyan g telahdipadati berhala oleh Quraisy dengan jumlabilangan hari dalam setahun,  ialahtidak  kurang dari 3buah berhala. Yang benar telah datang, hancur luluhlah
kebathilan ….

Mulai hari itu tak ada lagi Lata.  ‘Uzza atau Hubal., dan semenjak itu manusia tidak lagi menundukkan  kepalanya kepada batu atau berhala –.., dan ta kada lagi  yang mereka puja sepenuh hati kecuali Allah yang tak ada tara atau bandingan-Nya; Tuhan yang Maha Tunggal lagiEsa, Maha Tinggi dan Maha Besar ….
Rasulullah memasuki Ka’bah dengan  membawa Bilal  sebagai teman…! Baru saja masuk, beliau telah berhadapan dengan sebuah patung pahatan, menggambarkan Ibrahim ‘alaihissalam sedang berjudidengan menggunakan anakpanah. Rasulullah amat murk a, sabdanya:
Semoga mereka dihancurkan Allah! Tak pernah nenek moyang kita melakukan perjudian demikian….Dan Ibrahim itu bukanlah seorang yahudi,bukan pula seorang nasrani, tetapi seorang yang beragama suci dan seoran g Muslim, dan sekali-kali bukan dari  golongan musyrik “.

Rasulullah menyuruh Bilal naik ke bagian atas masjid untuk mengumandangkan adzan. Maka Bilal pun adzanlah.. ‘ dan amboi…, alangkahmengharukan saatitu, temp at itu dan suasana kala itu…! Gerakan

kehidupan di Mekah terhenti, dan dengan jiwa yang satu, ribuan Kaum Muslimin dengan hati khusyu’ dan secaraberbisik mengulangi kalimat demi kalimat yangdiucapkan Bilal.
 Orang-orang musyrik di rumahnya masing-masing hampir tak percaya dan bertanya-tanya dalam hatinya:

—   Inikah dia Muhammad dengan orang-orang miskinnya yang
kemarin terusir meninggalkan kampung halamannya…?
   Betulkah dia, yang mereka usir, mereka perangi,  dan mereka bunuh keluarga yang paling dicintainya serta  kerabat yang paling dekat kepadanya…?

—   Dan betulkah dia, yang beberapa saat yang lalu,  nyawa mereka berada di tangannya, memaklumkan kepada mereka: “Pergilah kalian…, kalian semua bebas…!”

Tiga orang bangsawan Quraisy sedang duduk-duduk di pekarangan Ka’bah. Mereka tampak terpukul menyaksikan panorama itu, yaitu ketika Bilal menginjak-injak berhala-berhala mereka dengan kedua telapakkakinya, kemudian di  atas reruntuhannya yang telah hancur
luluh, menyenandungkan suara adzannya yang berkumandang di seluruh pelosok Mekah yang tak ubahnya  bagai tiupan angin di musim bunga ….

Ketiga orang itu ialah: Abu Sufyan bin Harb — yang telah masuk Islam beberapa saat yang lalu — dan ‘Atta bin Useid serta Harits bin Hisyam — kedua mereka belum lagi masuk Islam —. Sementara matanya tertuju kepada Bilal yang sedang menyuarakan adzan, ‘Attab berkata: “Sungguh Useid dimuliakan Allah, ia tidak mendengar sesuatu yang amat dibencinya!” Berkata pula Harits: “Demi Allah,seandainya saya tahu bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam itu di pihak yang benar, pastilah saya paling dahulu akan mengikutinya…! Sedang Abu Sufyan yang diplomat itu menukas pembicaraan kedua shahabatnya dengan katanya: “Saya tak hendak mengatakan sesuatu, karena seandainya saya berkatapastilah akan disebarkan oleh kerikil kerikil ini!”

Ketika Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan Ka’bah tampaklah mereka olehnya, lalu dalam sekejap waktu dibacanya wajah-wajah mereka. Kemudian dengan kedua matanya yang bersinar dengan Nur Hahi, sabdanya kepada mereka: “Saya tahu apa yang telah kalian katakan tadi..  …. Lalu diceriterakannyalah apa yang mereka katakan  itu. Maka Harits dan ‘Attab pun berseru: “Kami menyaksikan bahwa anda adalah Rasulullah. Demi Allah tak seorang pun mendengarkan pembicaraan kami, hingga kami dapat menuduh bahwa ia telah menyampaikannya kepada anda…!” Sekarang mereka menghadapi Bilal dengan pandangan baru.
Dalam lubuk hati mereka bergema kembali kalimat- kalimat yang mereka dengar dalam pidato Rasulullah sewaktu mula-mula masuk Mekah.

Hai golongan Quraisy..  Allah telah melenyapkan daripada kalian kesombongan jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang…, Manusia itu dari Adam …. sedang Adam dari tanah…!
Bilal melanjutkan hidupnya kini bersama RasulullahShalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ikut mengambil bagian dalam semua perjuangan bersenjata yang dialaminya. la tetap memuaddzin, menjaga serta menyemarakkan syi’ar Agama besar ini, yang telah membebaskan darkegelapan kepada cahaya, dari perbudakan kepkemerdekaan…!
Kedudukan Agama Islam semakin tinggi, demikian pula halnya Kaum Muslimin, taraf dan derajat mereka ikut naik; dan Bilal semakin lama semakin dekat di hati Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyatakannya sebagai “seorang laki-laki penduduk surga”.
Tetapi sikapnya tidak berubah, tetap seperti biasa; mulia dan besar hati, yang selalu memandang dirinyatidak lebih dari “seorang Habsyi yang kemarin menjadi budak belian”.
Pada suatu hari ia pergi meminang dua orang wanita  untuk diperisterikannya dan diperisterikan saudaranya,  maka katanya kepada bapa wanita itu: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku, kami berasal dari budak bangsa Habsyi…. Pada mulanya kami berada dalam kesesatan kemudian diberi petunjuk oleh Allah, dahulu kami budak-budak belian lalu dimerdekakan oleh Allah.… Jika pinangan kami anda terima alhamdulillah— segala puji bagi Allah, dan seandainya anda tolak, maka Allahu Akbar, Allah Maha Besar…!

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pergi meninggalkan alam fana dan naik ke rafiqul a’la dalam keadaan ridla dan diridlai, dan penanggung jawab Kaum Muslimin sepeninggal beliau dibebankan di atas pundak khalifahnya Abu Bakar as-Shiddiq. Bilal pergi mendapatkan khalifah Rasulullah, menyampaikan isi hatinya.  Wahai Khalifah Rasulullah, saya mendengar Rasulullah bersabda:  Aural orang Mu’min yang utama adalah berjihad fi sabilillah.

“Jadi apa maksudmu, hai Bilal?” tanya Abu Bakar. “Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia”, ujar Bilal. “Siapa lagi yang akan menjadi muaddzin bagi kami?”, tanya Abu Bakar pula. Dengan air mata berlinang Bilal menjawab: “Saya takkan menjadi muaddzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah”. “Tidak” kata Abu Bakar, “tetaplah tinggal di sini hai Bilal, dan menjadi muaddzin kami!” Jawab Bilal pula: “seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan nda itu. Tetapi bila anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan  maksud baik anda itu!” “Tak lain saya memerdekakanmu  itu, hai Bilal, semata-mata karena Allah!”

Kemudian mengenai kelanjutannya terjadi perbedaan  pendapat di antara para  ahli riwayat. Sebagian meriwayatkan bahwa ia pergi ke Syria dan menetap di sana sebagai pejuang dan mujahid. Sementara menurut lainnya, ia menerima permintaan Abu Bakar untuk tinggal bersamanya di Madinah. Kemudian setelah Abu Bakar wafat dan Umar diangkat sebagai khalifah, barulah Bilal minta idzin dan mohon diri kepadanya, lalu berangkat ke Syria.

Bagaimanapun juga, Bilal telah menadzarkan sisa hidup dan usianya untuk berjuang menjaga bentengbenteng Islam di perbatasan, dan membulatkan tekadnya untuk dapat menjumpai Allah dan Rasul-Nya, sewaktu ia sedang melakukan aural yang paling disukai oleh keduanya…. Dan suaranya yang syandu, dalam danpenuh
Wibawa itu, tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebabnya ialah karena demi ia membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah “, maka kenangan lamanya bangkit kembali, dan  suaranya tertelan oleh kesedihan, digantikan oleh cucuran tangis dan air mata ….

Adzannya yang terakhir, ialah ketika Umar sebagai Amirul Mu’minin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu shalat saja. Amirul Mu’minin memanggil Bilal; ketika waktu shalat telah tiba, maka dimintanya ia menjadi muaddzin.   naik ke menara dan adzanlah…. Shahabat shahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu shalat telah tiba, maka dimintanya ia menjadi muaddzin.

Bilal pun  naik ke menara dan adzanlah…. Shahabat shahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muaddzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata, yang tak pernah mereka lakukan  selama ini …. sedang yang paling keras tangisnyaantara mereka ialah Umar…

Bilal berpulang ke rahmatullah di Syria sebagai pejuang di jalan Allah seperti diinginkannya. Dan di bawah bumi Damsyiq, sekarang terpendam kerangka dan tulang-belulang suatu pribadi yang besar di antara pribadi-pribadi manusia, yang amat teguh dan tanggpendiriannya dalam mempertahankan ‘aqidah dan keimanan….

Semoga Rahmat dan Karunia Allah melimpah rush kepada Bilal dan kepada kita semua.


Jumat, April 19

Sahabat Bernilai 1000 Tentara

Suara al-Qo’qo dalam tentara jauh lebih baik daripada suara seribu tentara.. Nama lengkap beliau adalah al-Qo’qo’ bin Amru at-Tamimy. Di kalangan bangsa Arab, beliau tergolong penyair terkenal dan terpandang. Pada masa Jahiliyah, beliau juga dikenal sebagai seorang kesatria dan ahli perang. Begitu juga ketika dirinya masuk Islam. Beliau adalah saudara dari ‘Ashim bin Amru at-Tamimy, seorang sahabat, yang dikenal sebagai penyair dan sastrawan.
 
Mengenai pribadinya, Abu Bakar berkata; “Suara al-Qo’qoa dalam tentara jauh lebih baik daripada suara seribu tentara.” Pada waktu dalam keadaan kritis, Kholid bin Walid meminta bantuan. Waktu itu betul-betul sangat ‘sukar sekali’ untuk keluar dari masalah itu. 
 
Akhirnya Abu Bakar mengirim al-Qo’qo’ bin Amru sembari berkata; “Tidak orang yang dapat mengalahkan musuh seperti dia.” Pada waktu terjadi perselisihan antara sahabat di Shiffin dan Jamal, beliau ikut dalam kelompok Ali bin Abu Tholib. Pada waktu penaklukan Mesir, beliau adalah salah seorang yang dikirim ke Mesir oleh Umar bin Khottob untuk membantu Amru bin Ash. Dalam suratnya Umar berkata; “Aku kirimkan kepadamu seorang laki-laki berbanding seribu dari umat Islam.” Dengan izin Allah, Mesir dapat ditaklukan dengan mudahnya. Ketika terjadi perang Yarmuk, Kholid bin Walid menyuruh beliau dan Ikrimah untuk mengobarkan api peperangan. 
 
Akhirnya dengan langkah berani beliau bersama Ikrimah memulai peperangan itu. Disaat pasukan umat Islam menghadapi musuhnya pada waktu perang Madain, Sa’ad bin Waqos berdo’a agar umat Islam diberi keselamatan dan kemenangan. Atas izin Allah do’anya dikabulkan. Pasukan umat Islam yang dikepalai beliau berhasil mengalahkan musuh. Tidak ada seorang muslim yang hilang dalam perang itu. 
 
Ada seorang yang hilang dalam perang itu tapi kemudian ditemukan oleh beliau. Lain halnya dengan perang Nahawan. Ketika orang-orang Persia mengepung umat Islam hingga berhari-hari, umat Islam berusaha membuat strategi untuk keluar dari kepungan musuh. an-Nu’man menyuruh beliau untuk melaksanakan strategi itu dengan mengunakan kuda. Beliau berhasil melaksanakan strategi itu dengan cermat dan akurat yaitu melempar musuh kemudian balik lagi. Dalam waktu yang sama, mereka mengikuti beliau dan mengejarnya. Beliau mencoba mundur kebelakang. Mereka pun masih mengejarnya. Beliau bersikap seolah-olah hendak melarikan diri dari mereka. Hingga akhirnya pasukan musuh ikut mengejar semua kecuali penjaga. Di saat itulah, umat Islam menyerang dan menghancurkan mereka. Rustum, pemimpin pasukan Rum mati di tanggannya pada waktu perang Qodisiyah. Suatu hari Umar bin Khottob berkirim surat kepada Sa’ad bin Abu Waqos. Dalam suratnya itu beliau bertanya; “Siapa kesatria yang paling berani dalam perang Qodisiyah?” Dalam surat balasannya, Sa’ad menjawab bahwa dirinya belum perah melihat kesatria paling berani seperti al-Qo’qo’. Dalam satu hari dia mampu melakukan tiga serangan. Dalam setiap serangan itu mesti ada musuh yang dibunuh. 
 
Beliau juga berhasil membunuh al-Fairuzan, pemimpin pasukan Persia pada waktu perang Nahawan. Ketika al-Fairuzan hendak melarikan diri, beliau kejar dia. Hingga akhirnya dia turun dari kuda. Keduanya bertarung di tanah hingga al-Fairuzan terbunuh. Pada waktu terjadi sengketa dan persilisihan antara sahabat, beliau pernah diutus Ali bin Abu Tholib ke Tholhah dan Zubair dengan tujuan untuk mendamaikan antara mereka. akhirnya sedikit demi sedikit, mereka dapat didamaikan. Beliau menghebuskan nafas terakhirnya pada tahun 40 Hijriah. Betapa besar jasa beliau dalam perjuangan membela Islam.

Sumber
 
Terimakasih telah berkunjung