Selamat Datang di TOKO AZZAM 7
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 6

Tingkatan Sholat

Shalat merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan. Bagaimanapun kondisi saat ini, jika waktu shalat telah tiba, maka kita wajib menjalankannya. Berbeda dengan shaum, jika tidak mampu, ya tidak apa-apa tidak menjalankannya. Yang pasti, di hari-hari yang lain selain Ramadlan, kita wajib menggantinya (qadla). Sholat adalah tiang agama,barang siapa tidak mendirikannya maka ia telah merobohkan agama. Sholat juga garis pembeda antara orang beriman dan kafir. Sholat adalah kewajiban yang langsung Allah sampaikan langsung kepada Rasulullah. Sholat adalah amalan yang akan memberikan "efek" pada akhlaq kita. Semakin baik sholat kita semakin baik pula akhlaq kita. Sholat adalah amalan yang akan di hisab pertama kali, dan akan menjadi parameter bagi amalan-amalan lainnya. Sungguh segudang manfaat dan keagungan sholat ini maka tidak akan pernah salah jika bahasan2 kajian akan didominasi oleh amalan ini.

Ternyata, dalam pelaksanaannya, kualitas shalat yang dilaksanakan berbeda-beda. Atau, seseorang yang shalat, shalatnya terkadang berkualitas tinggi, terkadang rendah. Ini tergantung situasi dan kondisi hati dan raga ketika shalat. Salah satu penyebab kenapa para sahabat bisa bertahan disetiap kondisi terburuk adalah kualitas sholat yang selalu terjaga. Sebut saja Ali bin Abi Thalib saat beliau terkena panah, beliau meminta panah itu dicabut saat beliau sedang sholat. Subhanallah...


Dalam hal kualitas shalat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasi orang yang shalat kedalam lima kelas. Kelima kelas tersebut antara lain:

1. Mu’aqqab
Mu’aqab artinya disiksa. Hm, kok yang menjalankan shalat disiksa sih? Ya, begitulah, Sob. Dalam al-Quran jelas ada informasi bahwa kecelakaan bagi orang yang suka shalat, yaitu yang lalai dan riya (lihat Q.S. al-Ma’un [107]: 4-6!).

Kriteria mushalli yang mu’aqqab yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim adalah orang yang mengabaikan aturan-aturan seputar shalat dari mulai waktu shalat, wudlu, sampai rukun-rukun shalat. Shalatnya hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban (formalitas). Orang seperti ini cenderung malas menjalankan ibadah shalat. Hmmm moga2 bukan yang baca ini ya... kalaupun merasa gitu buruan deh perbaiki tuh sholat ya....

2. Muhasab
Muhasab berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyah-nya saja. Sedangkan aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi oleh lamunan-lamunan tak berarti. Maha Suci Allah.... benar-benar luar biasa gangguan iblis ini... semoga kita dilindungi dari yang seperti ini.

3. Mukaffar ‘Anhu
Tingkatan ketiga dalam kualitas shalat menurut Ibnul Qayyim adalah mukaaffar ‘anhu yang artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Yang menempati tingkatan ini adalah mereka yang mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk  melawan intervensi setan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas. Semoga kita termasuk orang-orang seperti ini.... yang pasti kuatin tuh Azzam buat sholat yang berkualitas bukan begitu bro....

4. Mutsabun
Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah (mendirikan shalat). Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah Ta'ala... Subhanallah sapa sih yang kagak pingin sholat sampai benar2 menikmati dan sangat menikmati....

5. Muqarrab min Rabbihi
Yang terakhir adalah tingkatan yang paling hebat. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya langsung tertuju kepada Allah. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga ia merasa melihat Allah (ihsan). Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Orang yang berada di tingkatan ini bukan hanya menadapat pahala dan ampunan tetapi ia pun dekat dengan Allah karena shalat ia jadikan sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa. Allahu Akbar...

Wah.... jika kita bermuhasabah, berada di tingkatan yang manakah kualitas shalat kita? Hm, minimal semoga kita termasuk kelompok Mukaffar ‘Anhu. Maksimal, ya menempati tingkatan Muqarrab min Rabbihi. So, mari kita berusaha terus menjaga shalat kita di setiap waktu. Ingat, shalat itu merupakan rukun Islam yang kedua. Jika lalai dari shalat, berarti kita telah menggugurkan rukun islam yang kedua ini.

Shalat itu tiang agama. Jika shalat ditinggalkan, maka kita meruntuhkan bangunan agama. Oleh karena itu, mari menjaga shalat sebagaimana perintah Allah swt.:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu) dan (peliharalah pula) shalat wustha[1]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan qanit[2]!” (Q.S. al-Baqarah [2]: 238).



Footnote:
[1] Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

[2] Qanit artinya penuh ketaatan. Mematuhi seluruh aturan dalam shalat.
 
berbagai sumber

Jumat, Mei 3

Kekuatan dari Surga

Siapa sih yang gak mau masuk surga? Agaknya surga sudah bukan hal yang susah untuk dijelaskan, sedetik saja kita mampu mengurai mengingat puluhan ayat bahkan hadist tentang surga yang sangat indah, tapi benarkah lisan kita sama dengan hati kita? benarkah ingatan kita benar-benar merasuk dalam hati kita? benarkah kekuatan surga itu telah menjadi "motivator" buat kita? sebuah kisah singkat seorang shahabiyah, semoga bisa membantu kita menemukan kekuatan surga.
Kisah seorang wanita tua renta yang sangat ingin anaknya mati syahid. Anak yang sangat ia cintai itu bukan ia manja, namun ia harapkan gugur sebagai syahid. Dengan cara inilah ia mencintai sang anak. Subhanallah.

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rabi‘ binti Barra’ –yaitu ibu dari Haritsah bin Suraqah—datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau beritahu aku tentang keadaan Haritsah (yang terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia di surga maka aku bersabar, tetapi jika tidak maka aku akan menangis menyedihkan kepergiannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Ummu Haritsah, sungguh ada beberapa surga di dalam surga, dan sesungguhnya puteramu mendapatkan surga Firdaus yang tertinggi.” (HR. Bukhori)

Bagi seorang ibu, kesedihan akan bencana anaknya atau bahkan kematian akan anaknya sama saja dengan bencana bagi seluruh hidupnya. Paling tidak begitulah gambaran hati seorang ibu akan kasih sayangnya pada anaknya yang bahkan rela menukar nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Begitu pun dengan Ummu Haritsah bin Suraqah. Namun, semua kegundahan akan kematian anaknya dalam perang bisa ia balik 100% menjadi sebuah kebahagiaan penuh harap akan surga tertinggi yang Allah janjikan bagi seorang yang syahid.

Dalam sebuah riwayat :
“Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Secercah hikmah tersemburat dari kisah tersebut yang tak kalah ampuh dibandingkan kata-kata motivator yang bernilai jutaan. Tentang bagaimana kekuatan surga itu bisa membalikkan 100% galau, gundah, merana yang tercecer mengotori hati. Harap-harapnya pada janji-janji Allah yang tak mungkin teringkari membuat wanita tua itu tak bersedih lagi setelah mengetahui bahwa anaknya berada pada surga tertinggi.

Lalu, bagaimana dengan kita? Cukupkah surga membuat setiap perih yang kita rasa dalam perjalanan hidup ini kita ubah menjadi keikhlasan dan harapan tertinggi pada surga-Nya kelak? Sejauh itukah iman kita menguatkan harapan kita tentang surga? Atau separuh iman saja yang ragu akankah surga itu sungguh balasannya? Tanyakan pada hati.

Kamis, Mei 2

Nikah koq dipersulit...

“Pernikahan itu sangat sensitif,” kata Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anh, “dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”

Pernikahan itu sangat sensitif. Pada saat itu seseorang menjadi peka, lebih peka dari sebelumnya. Boleh jadi ia menjadi lebih peka terhadap kebajikan-kebajikan dan akhlak mulia. Boleh jadi ia justru menjadi peka terhadap kekurangan-kekurangan orang lain sekalipun sedikit, sedangkan kebaikannya yang banyak tidak nampak di mata.

Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau sebuah pernikahan mengalami keretakan dan kegersangan, yang merasakan panas serta gerahnya tidak hanya suami dan istri. Sanak-kerabat pun bisa ikut merasakan. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing pribadi berusaha untuk saling menyelami dan menguatkan jalinan perasaan (al-athifah) untuk kebaikan bersama, guncangan-guncangan besar pun insya-Allah tidak menggoyahkan. Apalagi guncangan kecil, baik dari tetangga maupun keluarga.

Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemuliaan –bukan dimuliakan– insya-Allah mereka akan meraih rumahtangga yang barakah, sakinah (menenteramkan jiwa) mawaddah wa rahmah (diliputi oleh rasa cinta dan kasih-sayang).

Pernikahan itu sangat sensitif. Segala jalan yang menyebabkan munculnya keraguan dan kebimbangan mengenai akhlak maupun fisiknya, perlu dijauhkan. Setiap pintu yang bisa membukakan penyesalan perlu ditutup, sedangkan pintu yang mendatangkan kemantapan dan terhapusnya jalan penyesalan sebaiknya dibuka lebar.

Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah. Sementara itu, mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadat (kerusakan) masyarakat. Tetapi yang ingin saya bahas di sini adalah madharat bagi suami-istri yang akan menikah.

Rasulullah bersabda,“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”

Ada beberapa madharat yang bisa muncul akibat proses pernikahan yang dipersulit:

Pertama, Menyebabkan Pembandingan

Sulitnya menempuh proses pernikahan, dapat menyebabkan orang melakukan pembandingan. Ia membandingkan proses yang ia jalani. Bisa juga membandingkan orang yang dikehendaki.
Adakalanya, orang membandingkan dengan proses yang ditempuh oleh orang lain. Pembandingan menyebabkan munculnya penilaian. Sebagian dari penilaian masih berada dalam kebenaran, akan tetapi sebagian lagi dapat menjatuhkan kepada prasangka dan dosa. Ia menilai iktikad calon teman hidupnya maupun keluarganya.
Adakalanya, orang membandingkan calon istrinya dengan orang lain.
Pembandingnya bisa jadi memang benar-benar ada, bisa jadi imajinatif. Ia tidak membandingkan calon istrinya dengan seseorang, tetapi membandingkan dengan apa yang diangan-angankannya di waktu dulu. Sumber pembandingan bisa jadi cerita orang, bisa juga buku-buku tentang nikah.
Mungkin ia membandingkan calonnya dalam aspek psikis. Misalnya, keramahan dan kelembutannya. Mungkin juga ia membandingkan aspek fisik si calon dengan orang lain, sehingga ia menjadi kurang lega dan mantap dibanding sebelumnya. Padahal, ketika sudah menikah saja seorang istri perlu menjauhkan suami dari membanding-bandingkan kecantikan istri dengan orang lain. Sebab ini dapat membuka jalan ketidakpuasan dan penyimpangan.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anh mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,  Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, kemudian ia ceritakan kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut.” (HR Bukhari & Muslim).

Kedua, Menimbulkan Keraguan

Ketika Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anh akan meminang seorang wanita, begitu An Nasa’i menceritakan dalam hadisnya, Rasulullah bertanya, “Sudahkah kamu melihat wanita itu?”
Kemudian Mughirah menjawab, “Belum.”
Rasulullah kemudian berkata, “Lihatlah wanita itu, karena akan mengurangi penyesalan antara kedua belah pihak. Yakni memberi kemungkinan tumbuhnya keserasian, keselarasan, dan kebersamaan antara keduanya.”
Al-Amasy berkata, “Setiap perkawinan yang dilangsungkan tanpa saling melihat akan menyebabkan kesusahan dan kesedihan.”
Melihat wanita yang akan dinikahi dapat menumbuhkan kemantapan. Ia lebih yakin kepada satu pilihan. Mudah-mudahan mereka akan memperoleh keserasian dan keselarasan setelah menikah.
Ketika proses pernikahan dipersulit, orang dapat membanding-bandingkan. Ini membuka jalan ketidakpuasan dan ketidakrelaan. Proses pernikahan yang dipersulit juga dapat mengakibatkan orang menjadi tidak mantap melangkah, sekurang-kurangnya menjadi ragu. Padahal kemantapan terhadap pilihan sangat diperlukan agar tercapai keselarasan, keserasian dan kebersamaan antara keduanya. Demi mencapai kemantapan agar tidak mengangankan yang lain, orang boleh melihat calonnya.
Mari kita lihat kembali kisah Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anh melalui jalur lain:
Ketika Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua.” Dia melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An Nasa’i dan At Tirmidzi).
Kalau orang merasakan keraguan, barakah pernikahan bisa berkurang.
Na’udzubillahi min dzalik.

Ketiga, Melemahkan Kesediaan untuk Berjuang Bersama

Proses pernikahan yang dipersulit bisa melemahkan kesediaan untuk berjuang bersama-sama. Kalau semula keluarga dibayangkan sebagi perahu yang perlu dikayuh bersama-sama, sulitnya proses pernikahan dapat menyebabkan pikiran berubah. Ia telah membayar proses pernikahan dengan kesulitan. Setelah akad nikah tercapai, tibalah saatnya untuk menjadi penumpang saja di perahu itu. Tidak mengayuhnya bersama-sama.
Keluarga yang demikian ini akan timpang. Apalagi kalau masing-masing merasa paling banyak berjuang dalam mengibarkan layar pernikahan.

Keempat, Mengeraskan Hati

Proses pernikahan yang sulit dapat mengeraskan hati dan meninggikan tuntutan psikis terhadap istri. Kerasnya hati menyebabkan komunikasi begitu kering. Tidak ada dialog dari hati ke hati, sehingga mata harus menangis karena perhatian orang yang tercinta ada yang mengikis. Jarang sekali ada silaturrahmi, justru antar anggota keluarga yang tinggal serumah. Sehingga masing-masing berjalan sendiri. Kalau ada kebahagiaan, ia rasakan sendiri. Kalau ada keperihan, ia tangisi sendiri.
Tingginya tuntutan psikis terhadap istri, menyebabkan suami kurang bisa merasakan kebaikan-kebaikan istri walaupun sebenarnya sangat besar. Ia selalu merasa kecewa dan kesal terhadap istrinya. Padahal istri sudah melakukan banyak hal. Ia mudah menyalahkan istrinya sebagai orang yang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik. Meskipun ia tahu setiap orang mempunyai kekurangan (sama seperti dirinya).

Tuntutan psikis yang tinggi menjadikan apa yang dipandang selalu kurang. Kalau Anda memaki kacamata gelap, matahari yang terang pun kelihatan redup!

Rabu, Mei 1

Only Three.. mau.. mau.. mau...

“Di antara banyak orang, hanya sedikit yang beriman. Di antara yang beriman itu hanya sedikit yang beramal. Di antara yang beramal itu hanya sedikit yang berdakwah, dan di antara yang berdakwah itu hanya sedikit yang mampu mencapai tujuan yaitu ridho Allah.”  Asy-Syahid Hasan Al Banna

Sob kira2 kita masuk yang mana ya???? Hanya Allah yang tahu, namun sebelum kita memvonis termasuk yang mana? ada baiknya kita tinggalkan sejenak rutinitas kita lalu sedikit merenung, benarkah tujuan hidup kita adalah Ridho Allah??

Seperti para pendaki gunung semakin tinggi gunung yang didaki semakin tipis oksigen dan semakin kencang angin yang menerjang, begitu banyak godaan dan tantangan demi mencapai puncak. Kita adalah makhluq dengan beragam dan beribu keterbatasan, kita bukan para Nabi yang Imannya selalu naik, kita juga bukan para Malaikat yang selalu menjadi makhluq paling taat kepada Allah. Kita adalah manusia-manusia dhaif yang selalu butuh bantuan dan sokongan untuk bisa mencapai puncak itu.

Siapa yang bisa membuat kita bisa mencapai puncak itu? Siapa lagi kalau bukan Allah Ta'ala sumber dari segala sumber kekuatan, sumber dari segala kebaikan dan sumber dari segalah keMaha Perkasaan. Siapa sih yang tidak ingin meraih Ridho Allah, saat Allah Ridho dengan kita maka seluruh penduduk sejagat raya akan ridho pada kita. Dengan kekuatan-Nya Allah memberikan Izzah yang sangat luar biasa kepada mereka yang dikehendaki-Nya.

Ada tiga amalan yang bisa membantu kita mencapai puncak itu, namun sebelum mencapai puncak itu kita ukur dulu sedekat apasih kita dengan Allah yang Maha Gagah lagi Maha Pekarsa?

Pertama, bagaimana hubungan kita dengan Al-Quran. Berapa waktu yang kita sengaja luangkan untuk mentadabburinya? sejenak dua jenak kah, atau sesempatnya saja, atau jika ingat saja. Hubungan kita dengan Al-Quran adalah berbanding lurus dengan hubungan kita pada-Nya.

Kedua, bagaimana sholat kita? Apakah tepat waktu? Khusyu'kah? hanya yang fardhukah? atau hanya seingatnya saja? Sholat sunnah juga dicintai oleh Allah, jangan pernah meremehkan sholat sunnah dan amalan-amalan sunnah. Sholat adalah garis pembatas orang beriman dan orang kafir. Sholat adalah amalan pertama yang dihisab di yaumil akhir nanti, pastinya sholat memiliki keistimewaan tersendiri sehingga ditempatkan sedemikian rupa. So... pantas dong jika Orang yang tidak main-main dengan sholat dan selalu menjaga kualitas serta kuantitasnya adalah orang-orang yang dekat dengan Allah.

Ketiga, bagaimana dzikir-dzikir kita? Ingat kepada Allah adalah sebaik-baiknya jalan untuk menenangkan hati-hati yang senantiasa digoda oleh kegalauan dan kegelisahan. Lebih sering galau atau tenang hati kita? Bagaimana seseorang bisa mencapai Ridho Allah jika ingat saja pada-Nya hanya sesaat atau sejenak atau saat butuh saja???

Sob... Insya Allah dengan ketiga amalan ini, kita bisa mengukur seberapa dekat dengan Allah dan kita akan tahu termasuk orang yang mana kita? Keterbatasan bukan alasan kita mencapai puncak, sesungguhnya kesempurnaan milik Allah. Mungkin raga kita saja yang nyaris sempurna tapi jiwa dan ruh kita ringkih dan tak berdaya. Keterbatasan takkan bernilai dihadapan yang Maha Sempurna karena Allah hanya melihat ketaqwaan seseorang.

Semoga Allah meneguhkan azzam-azzam kita untuk selalu menjadi orang-orang yang berada dipuncak diatas para puncak yakni Ridho Allah. Amiin




Senin, April 29

Gairah Yang Membuat Tenang

Di balik ketergantungan kepada sumber energi dari perempuan itu, ada satu fenomena yang patut dipelajari dengan seksama; syahwat besar yang dirasakan para pahlawan kepada perempuan.
Utsman bin Affan, khalifah ketiga dan menantu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan pernah berkata tentang dirinya sendiri, “Saya adalah lelaki yang sangat suka kepada perempuan.” Agaknya penjelasan ini mewakili fenomena yang mencolok dalam kehidupan para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam; baik pada jumlah istri yang banyak maupun pada frekuensi hubungan seksual.

Apakah ada hubungan antara kebutuhan biologis yang besar dan kebutuhan psikologis sama besarnya terhadap perempuan? Ada pada sebagiannya dan tidak ada pada sebagiannya. Yang terakhir ini karena kita juga menemukan contoh pada beberapa ulama, seperti Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan Sayyid Quthb, yang tetap membujang hingga wafat. Bahkan, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, rahimahullah, menulis sebuah buku tentang Al Ulama Al Uzzab (Ulama-ulama Bujang).

Di samping dapat dijelaskan oleh kesibukan mereka, atau kekhawatiran tidak dapat memenuhi hak-hak istri, agaknya penjelasan Syekh Ibnu Utsaimin, rahimahullah, lebih realistis. “Mereka mempunyai ambisi besar kepada ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki syahwat yang kecil. Sebab kalau syahwat mereka besar, tentulah kesibukan tidak akan menghalangi mereka menikah,” jelasnya.

Lepas dari itu, syahwat besar kepada perempuan memang banyak ditemukan di kalangan para pahlawan di medan perang dan politik. Syahwat besar itu berguna mengimbangi kekuatan lain yang sangat dahsyat dalam diri mereka; kekuatan amarah (al quwwah al ghadhabiyyah). Kekuatan terakhir inilah yang memberikan energi dan gairah untuk menghadapi risiko, meremehkan musuh, mengalahkan ketakutan kepada kematian, dan menikmati ketegangan jangka panjang.

Inilah agaknya yang menjelaskan mengapa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu membawa serta salah satu istrinya ke dalam berbagai medan tempur. Ini juga yang menjelaskan mengapa Umar membuat aturan yang mengharuskan setiap mujahid kembali menemui istrinya setelah masa tempur empat bulan. Lebih dari empat bulan, kata seorang analis militer, seorang prajurit akan berubah menjadi sadistis, atau bahkan kanibalis.

Syahwat itu, kala Al Maududi dalam Al Hijab, juga merupakan sumber vitalitas yang memberikan kita gairah untuk bekerja dan berkarya. Itu sebabnya Islam mengatur penyalurannya yang tepat agar ia memberikan efek produktivitas bagi kehidupan manusia.

Jadi, ketika para orientalis menuduh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penderita sex maniac, seorang penulis siroh (sejarah) menjawab, “Syahwat yang besar kepada perempuan itu justru merupakan tanda-tanda kesempurnaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Kamis, April 25

Paling Mahal...

Sobat menurut antum apa yang paling mahal????
ada yang jawab emas, intan, berlian, nyawa and soon... deh... waaah mungkin semua jawaban itu bener semua ya, tapi semua itu gak da harganya kalo gak da ini.... lha apa ini tu? (dilanjut kebawah mas bro...)

Naah bro kita sedikit berpikir kira2 kenapa ya kok salah satu hukum islam ada yang namanya qisas? Qisas arti pembalasan / memberi hukuman yang setimpal. Misalnya seseorang yang mencuri akan dipotong tangannya, orang yang berzina akan di rajam dsb... (bisa ditanya sama mbah gugel). Banyak orang mengatakan ih kejam amir seh amir aja gak sekejam itu... kalo dilihat sepintas emang iya sih... tapi Islam menghendaki keadilan akan sesuatu dan setiap kondisi hukum yang ada dan jauh dari pada itu sebenarnya bukan pencuriannya yang kita khawatirkan tapi si maling itu telah mencuri sesuatu yang sangat berharga dari kita Rasa Aman....

Rasa Aman inilah yang sangat mahal buat kita saat ini. Bahkan syarat bisa beribadah khusyu' adalah kenyang dan aman. Bagaimana kita bisa beribadah secara khusyu jika kesejahteraan kita masih belum terjamin, kondisi ekonomi yang carut marut dsb. Demikian pula bagaimana jika keamanan kita terancam bukan secara fisik saja tapi juga bathin, bagaimana tidak terancam jika free sex, narkoba, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya sudah merajalela mengancam kelangsungan akhlaq luhur para generasi kita. 

Sekali lagi rasa aman jugalah yang dijanjikan oleh Allah dalam surah An-Nuur ayat 55 :

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang beramal shaleh, bahwa sesungguhnya mereka akan diberi kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang telah pernah diberikan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum mereka , dan akan diteguhkan kedudukan agama mereka yang telah disukai oleh Allah untuk mereka.dan akan di tukar sesudah mereka merasa takut , menjadi aman dan sentosa. Ialah karena mereka menyembah AKU dan tidak mempersekutukan dengan yang lain. Tetapi barang siapa yang ingkar sesudah itu merekalah orang orang yang keji.

Bagaimana kejayaan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang digambarkan saat itu tidak akan ada seekor serigala yang memangsa domba. Perumpamaan yang sangat luar biasa untuk kesejahteraan dan rasa aman yang sangat didambakan. 

Bisakah lingkungan kita seperti itu? Jawabnya sangat bisa!!!! Bahkan negara kitapun sangat bisa menjadi seperti zaman khalifah agung tersebut. Karena ada Azzam dari segelintir orang yang ingin memperbaiki kondisi ummat ini dan kekuatan azzam itu mengalir dalam setiap desah nafas dan setiap langkah mereka. Perbaikan telah menjadi obsesi mereka, dan mereka menginginkan rasa aman itu selalu tercipta disetiap pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilahi karena hanya Dia-lah yang Maha mengamankan dan menggulingkan setiap makar akan diri-Nya. 

Wahai sobatku apakah tidak ingin kita adalah bagian yang "diamankan" oleh Allah dan menjadi "duta" yang menebar rasa aman melalui perbaikan-perbaikan, kapanpun dan dimanapun. Orang-orang  menyebutnya Harakatul Islah (Gerakan Perbaikan). Semoga Allah menguatkan hati kita untuk selalu tertaut dan tertambat pada kebenaran dan selalu condong pada keadilan.

baca juga ya Renungan Ramadhan...

Minggu, April 21

Antara Khalifah dan Panglima

Siapa yang tidak kenal dengan Khalid bin Walid? Ia adalah salah seorang sahabat yang sangat terkenal akan keberanian dan kekuatannya. Tidak hanya itu, ia pun sangat mahir dalam menyusun strategi peperangan. Maka sangatlah wajar jika Khalid bin Walid diangkat menjadi panglima perang sekaligus jenderal dari pasukan kaum muslimin.
Pada suatu waktu, Khalid bin Walid sedang memimpin peperangan dan berada di garis depan. Tiba-tiba datang seorang prajurit menyerahkan secarik surat yang dikirimkan oleh khalifah Umar bin Khaththab. Isinya sangat singkat, sekaligus mengagetkan.
“Dengan ini dinyatakan bahwa jenderal Khalid bin Walid, dipecat! Harap menghadap dengan segera!“.

Setelah membaca surat itu, Khalid bin Walid menjadi gelisah. Ia bingung karena merasa tak berbuat kesalahan. Namun, sebagai orang yang taat pada khalifah, ia segera mundur dari peperangan dan menyerahkan jabatan panglima perang kepada wakilnya.
Singkat cerita, Khalid bin Walid menghadap khalifah Umar bin Khaththab. Ia bertanya perihal isi surat yang diterimanya, hanya sekedar memastikan.
“Wahai, Amirul Mukminin. Apakah benar saya dipecat?”, tanya Khalid.
“Ya! Anda saya pecat!”, jawab Umar tegas.
“Baiklah, ya Amirul Mukminin. Saya dengar dan saya taat pada anda. Tapi bolehkah saya tahu alasannya? Apa kesalahan saya sehingga harus dipecat?”, tanya Khalid lagi penasaran.
“Anda sama sekali tidak berbuat kesalahan, sedikit pun!”, jawab Umar.
“Atau mungkin saya kurang ahli dalam hal peperangan?”, tanya Khalid lagi.
“Tidak! Saat ini, anda adalah panglima perang terbaik yang pernah kami miliki!”, jawab Umar diplomatis.
Khalid bin Walid terdiam. Ia tampak bingung dan linglung. Melihat ini, Umar bin Khaththab tersenyum.
“Dengarlah, wahai Khalid!”, ujar Umar.
“Anda adalah seorang jenderal terbaik dan panglima perang terhebat. Banyak sekali pujian yang ditujukan pada anda, entah itu dari pasukan anda sendiri maupun dari kaum muslimin”, lanjut Umar.
“Ingatlah, hai Khalid! Anda itu manusia biasa. Terlalu banyak pujian bisa menimbulkan rasa sombong dalam diri anda. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong?”, sambung Umar bertanya.
Khalid bin Walid tak menjawab. Ia diam seribu bahasa.
“Karena itu maafkan saya, wahai saudaraku! Agar anda tidak terjerumus ke dalam neraka, maka anda saya pecat!”, ujar Umar lagi.
Lagi-lagi Khalid bin Walid terdiam.
“Supaya anda tahu. Jangankan di hadapan Allah yang menguasai semesta, di hadapan Umar saja anda tidak bisa apa-apa”, jelas Umar dengan bijak.
Seketika itu juga Khalid bin Walid berdiri dan langsung memeluk khalifah Umar bin Khaththab. Ia menangis tersedu.
“Terima kasih, ya Umar! Engkau memang benar-benar saudaraku!”, ujar Khalid di sela-sela tangisannya.
Setelah pemecatan itu, Khalid bin Walid kembali ke medan perang. Bukan sebagai panglima, tetapi sebagai prajurit biasa. Ia menunjukkan bahwa ia berperang bukan karena jabatan, pangkat, atau kedudukan. Ia berperang semata-mata karena Allah, mencari keridhoan Allah.

Beginilah seharusnya Pemimpin benar-benar mampu "mencegah" rakyatnya untuk bermaksiat kepada Allah. Beginilah seharusnya yang dipimpin selama yang diinstruksikan adalah karena Allah dan taat kepada Rasul-Nya maka hanya satu kalimat kami dengar dan kami taat. Bagaimana dengan saat ini? Saat orientasi pemimpin berubah maka jangan pernah berharap mampu mendapatkan simpatik dan dukungan rakyatnya. demikianpula sebaliknya saat rakyat tak mampu memilih pemimpin yang layak maka jangan pernah berharap mendapatkan rahmat Allah. 

Jumat, April 19

Renungan Ramadhan.....

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Wahai Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang baik dan diberkati: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Pada malam ini, yang merupakan akhir bulan Sya’ban, kita menutup serial kajian kita tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Insya Allah, pada sepuluh malam yang pertama bulan Syawal, kita kembali kepada tema tersebut. Setelah itu kita akan membuka serial baru dari ceramah-ceramah Ikhwan, yang temanya insya Allah: Kajian- Kajian tentang Sirah Nabi dan Tarikh Islam.
Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.
Ikhwan sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sekali dalam setahun.
Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al- Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-Rafiq Al-A’la (Allah subhanahu wa ta’alapenj.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.
Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda mengenainya, “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat.” (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani)
Wahai Ikhwan, dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Karena kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.
Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini karena Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dari persaudaraan karena Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita bisa berjumpa kembali setelah masa liburan ini, insya Allah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama pekan-pekan tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala, yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.
Karena itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi diri-Nya sendiri. “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, la adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.”
Ini, wahai Akhi, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis karena takut kepada Allah, maka ia ingin banyak menangis karena Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia karena bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berdiri di hadapan-Nya, khususnya ketika melaksanakan shalat tarawih.
Ikhwan sekalian, hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa karena melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut.
“Danhendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Kemudian, lihatlah wahai Akhi, dampak dari semua ini. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Wahai Akhi, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Mahabenar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia subhanahu wa ta’ala paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini.
Allah subhanahu wa ta’ala telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal itu terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Jika Bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar subhanahu wa ta’ala, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!’
Wahai Akhi, pintu-pintu surga dibuka, karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, karena manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq subhanahu wa ta’ala, agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah subhanahu wa ta’ala sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.
Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah subhanahu wa ta’ala, dalam kalimat-kalimat ringkas.
Wahai Ikhwan yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada tiga:
1.   Perbaikan Aqidah
Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya.
Wahai Akhi, jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah, “Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22). Wahai Akhi, setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda.
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam surat Al-Mukminun, “Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab,‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalanmanakah kalian ditipu?’ Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (QS. Al-Mukminun: 84-90)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman di surat yang sama, “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya),maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. Al-Mukminun: 101-103)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 1-8)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu?Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (QS. Al-Qari’ah: 1-3)
Dalam surat lain Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (QS. At-Takatsur: 1-4)
Wahai Akhi, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan penjelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras.
2.   Pengaturan Ibadah
Anda juga membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala mengenai ibadah.
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43)
“…diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”(QS. Al-Baqarah: 183)
“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.’” (QS. Nuh: 10).
Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.
3.   Pengaturan Akhlak
Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda bisa membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya.Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”(QS. Asy-Syams: 7-8)
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubahkeadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang adadalam diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
“Adakah orang yang mengetahuibahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itubenar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakalsaja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhijanji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar karena mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikumbima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ makaalangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 19-24)
Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras. “Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (QS. Ar-Ra’d: 25)
Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, karena di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas dan gamblang.
“Seperempat Juz Khamr” yang diawali dengan “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi” (QS. Al-Baqarah: 219), mengandung lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila’,talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini karena surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah.
Ikhwan tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, karena itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda, wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya.
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Sumber

Baca juga ya ..... Antara Khalifah dan Panglima 
 
Terimakasih telah berkunjung