Selamat Datang di TOKO AZZAM 7
Tampilkan postingan dengan label CatAr (Catatan Ramadhan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CatAr (Catatan Ramadhan). Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 7

Hari Kemenangan

Photobucket
Hari ini adalah hari kemenangan bagi hamba yang beriman, bukan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga tapi sebulan sudah mentarbiyah diri kita menuju kesholehan yang (semoga dengan IzinNya) istiqomah.

Sesungguhnya para sahabat dan orang-orang sholeh lainnya menangis dan berharap puasanya, perjuangannya serta pengorbanannya selama Ramadhan diterima selama 6 bulan kedepan, setelah itu wajah mereka kembali menangis merengek agar Allah kembali mempertemukan mereka dengan Ramadhan. Semoga ruh semangat para orang-orang sholeh itu menular pada kita, semoga kita tidak khilaf dan berlebihan dalam menyambut Iedul Fitri 1434H ini.

Banyak maaf dari saya pribadi dan keluarga besar, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Iblis

"Mereka telah dikuasai oleh syaithan, maka mereka lupa mengingat Allah. Itulah golongan syaithan" ~ QS 58:19.

Dalam sebuah harian yang terbit di Kuwait, pernah dimuat sebuah artikel atsar sahabat yang menceritakan interaksi manusia dengan syaithan. Dikisahkan, ketika mendengar kumandang suara azan Maghrib, seorang kakek yang sudah mulai uzur, segera mengambil air wudhu. Setengah berlari sang kakek bergegas menuju masjid. Karena faktor ketuaan dan bobot tubuh yang cukup berat, tiba-tiba bruuk...! sang kakek terpleset dan jatuh terduduk.

Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda kekar bertelanjang dada, menghampiri sang kakek dan membantu memapahnya hingga sampai ke pintu masjid. Kebetulan sudah iqomat, maka sang kakekpun langsung bergabung dalam shalat berjamaah. Selesai menunaikan shalat, wirid dan shalat sunnah ba’da Maghrib, kakek tua tadi teringat telah ditolong oleh seorang pemuda, dan beliau belum sempat mengucapkan terimakasih. Sang kakek mencari diantara jamaah, namun tidak melihat anak muda itu. Lalu beliau melangkah ke luar masjid, memandang ke sekeliling pelataran, dan melihat anak itu sedang duduk di bawah sebatang pohon. Kakek tua itupun menghampirinya.

"Wahai anak muda, engkau baik hati sekali, tadi sudah menolong saya saat jatuh. Terimakasih ya. Tapi mengapa engkau tidak ikut shalat berjamaah dengan kami. Waman anta ? (engkau ini siapa)," tanya sang kakek.

"Ana ibnu iblis (saya anak iblis)," jawab anak muda itu.

"Hah..? anak iblis? Bukankah biasanya iblis justru menghalangi manusia untuk beribadah, mengapa tadi engkau menolongku?", tanya sang kakek penuh keheranan.

"Ya, tadi waktu kakek jatuh saat berjalan ke masjid, ayah saya bilang, ‘cepat tolong orang tua itu, jangan sampai dia jatuh sekali lagi’. Sebab ketika kakek jatuh tadi, maka dosa-dosa kakek yang lalu sudah diampuni Allah, dan kata ayah saya, jika kakek jatuh sekali lagi, maka dosa kakek yang akan datangpun diampuni pula oleh Allah. Kami tidak mau kehilangan kesempatan," jawab anak iblis itu.

"Astaghfirullah..," ucap sang kakek.

Mendengar kalimat istighfar itu, anak iblis itu merasa terbakar dan segera berlari dan menghilang di keremangan senja itu.



Sobat Iblis dan anak cucunya takkan pernah membiarkan para manusia untuk dekat dengan surga minimal jangan sampai dosa yang diperbuat lantaran iblis diampuni oleh Allah, ini adalah misi utama para iblis dan keturunannya. Masya Allah, sungguh dahsyat cara yang dilancarkan oleh mereka, tak satupun manusia luput dari godaannya. Mereka bukan hanya takut kepada kalimat-kalimat thoyyibah tapi mereka jauh lebih takut mereka yang benar2 ikhlas dan benar2 taat tanpa syarat kepada Allah Ta'ala. Bukankah selama Ramadhan ini kita dilatih untuk itu... Allah telah membrikan sebuah madrasah khusus agar bisa terbebas dari godaan dan rayuan iblis laknatullah dialah Ramadhan, namun sayang mungkin jurus ini hanya berlaku dibulan suci ini saja, selepasnya maka sedikitpun tak berbekas kita pernah ditarbiyah oleh Ramadhan kecuali sedikit dari mereka yang istiqomah.


Sobat... bukankah kita sadar-sesadarnya jika iblis adalah musuh yang nyata buat kita semua tapi kenapa godaan dan rayuan itu selalu berhasil melencengkan kaki serta langkah kita? Kenapa Allah tak kita libatkan saat godaan dan jeratan itu mulai terasa berat dan sulit. Allah adalah solusi saat semua didunia ini tak mampu lagi memberikan solusi dan harapan. Dialah Allah yang siap dan akan selalu memberikan harapan-harapan dengan bilangan tak terhingga, sekali lagi kenapa tak kita libatkan Allah?


Kesadaran-kesadaran semacam ini seharusnya sudah benar-2 mendarah daging bagi mereka yang senang akan datangnya Ramadhan dan sedih saat bulan ini berlalu, 30 hari kita mempersempit laju gerak para Iblis tapi selepasnya control itu hilang kembali. Jangan biarkan semua ibadah selama bulan ini sia-sia dan hanya bernilai lapar, dahaga, bergadang dan letih saja, tapi jadikan semua ibadah kita adalah cambuk yang membuat iblis menangis meratap bahwa semua dosa yang dibuat kepada kita diampuni oleh Allah. 


Tak ada kata terlambat untuk memulai, i'tikaf-2 kita jangan sampa bernilai bergadang jadikan ia momentum tangga kedektan dengan Sang Kholiq, Dialah yang menciptakan masalah Dia jugalah yang memiliki solusinya. Sobat jangan sampai kehilangan solusi lantaran jauh dari ilahi. Dialah sumber dari segala sumber solusi. 

Tak kuasa ku mengatakan selamat tinggal Ramadhan,
Tapi aku selalu berharap kepada sang pemilik hidup
Agar aku beserta keluarga dan sobatku kembali dipertemukan dengan bulan yang penuh ampunan ini.
 

Doa takkan pernah mati!!!
Sekalipun tak terhijabah didunia ini ia akan menjelma di akhirat kelak dengan izin Allah, atau ia akan menjelma menjadi manfaat pada generasi-generasi sesudahku atau kalian...

Selasa, Agustus 6

Isyarat Kemenangan

Kemenangan identik sekali dengan tantangan sebagai pendahuluannya, kemenangan akan sangat terasa indah saat tantangan yang dihadapipun sangat terjal dan mendaki. Tak sedikit manusia yang menginginkan tantangan yang mudah dan kecil, tapi jika Allah menghendaki kebesaran suatu kaum atau seorang manusia maka tantangan akan diputar menjadi jauh lebih besar dan jauh lebih menantang. Secara sadar ataupun tidak inilah momentum yang disediakan Allah untuk membesarkan kita dan inilah isyarat kemenangan. 

Kita lihat bagaimana pasukan muslim yang sangat sedikit dan menginginkan menghadang pasukan yang sedikit juga yakni pasukan kafilah Abu Sufyan tapi apa yang mereka hadapi? Allah buat skenario dengan indah mereka berhadapan dengan perang Badar. Ini adalah isyarat pertama kemenangan itu, total perang yang dilalui oleh Rasulullah adalah 68 peperangan selama 5 tahun awal pendirian negara madinah dan 5 tahun terakhir. Subhanallah tapi sekali lagi inilah isyarat kemenangan. 

Setidaknya ada 4 syarat menghadapi tantangan, agar tantangan ini bernilai kemenangan :

1. Memperkuat hubungan dengan Allah Ta'ala karena Dia-lah sutradara tunggal yang mengatur perminan ini, Dialah sumber ketenangan, keteguhan dan keberanian.

2. Berlapang dada dengan tidak mempersonalisasi masalah, tidak dendam, tidak marah atau panik (jangan didramatisir seperti sebuah sinetron)

3. Memiliki pemahaman yang menyeluruh pada situasi dan lingkungan dan jangan lupa peta masalah yang jelas

4. Kesolidan organisasi untuk menjamin semua rencana berjalan dengan baik

Insya Allah dengan syarat ini akan merubah serangan menjadi bumerang buat lawan, menjadikan tantangan sebagai peluang, jadi mari kita lihat tantangan adalah berkah dari Allah  yang akan melapangkan jalan kita untuk menjadi besar dan kokoh.

Ramadhan adalah salah satu madrasah kecil menuju persiapan kemenangan dengan menguras semua energi demi tercapainya syarat pertama. Jika syarat pertama belum terpenuhi hmmm jangan harap kita bisa melalui dengan mulus syarat-2 yang lain dan sekali lagi yuk jadikan tantangan sebagai isyarat kemenangan....

Senin, Agustus 5

We'll Never Stop

Perang ini terjadi karena hasutan dari Yahudi Bani Quraizah. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat akhirnya dipakailah sebuah strategi perang yang digagas oleh Salman Al Farisy, ya perang ini adalah perang Khandaq atau perang Ahzaab, Allah telah mengabadikan kisah ini dalam Al-Quran :

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنا عَلَيْهِمْ ريحاً وَ جُنُوداً لَمْ تَرَوْها وَ كانَ اللهُ بِما تَعْمَلُونَ بَصيراً

Wahai orang-orang yang beriman ! Ingatlah olehmu nikmat Allah kepada kamu seketika datang kepada kamu tentara-tentara; maka Kami kirimlah kepada mereka angin dan tentara-tentara yang tidak kamu lihat. Dan Allah itu adalah melihat apa yang kamu kerjakan. ( QS Al Ahzab ayat : 9. )

Pasukan Quraisy yang dipmpin oleh Abu Sufyan, berantakan oleh angin ribut, sehingga mereka kalah telak. Ada siroh yang menarik saat (menjelang usai) perang ini, kira-2 seperti ini kisahnya

Selesai perang Ahzab, Rasulullah saw pulang ke rumahnya. Ketika hendak meletakkan pedangnya, Malaikat Jibril menegurnya..."Para malaikat belum meletakkan pedangnya, pergilah ke Bani Quraizah (untuk membuat perhitungan dengan Yahudi Quraizah yg khianat dalam perang Ahzab)".Maka Rasulullah saw perintahkan para shahabatnya utnuk segera menuju Bani Quraizah..Bahkan saking segeranya beliau berpesan.. "Jangan shalat Ashar sebelum tiba di Bani Quraizah..." Para shahabat yg belum hilang letihnya dari perang Ahzab, langsung berangkat....Bentuk loyalitas yang luar biasa.

Sobat hal yang sangat urgen dari kisah ini adalah semangat tak kenal henti, dan memang demikianlah seharusnya seorang muslim. Di agenda setiap muslim tak kenal kata henti, ibadah, perjuangan, pengorbanan, dakwah dan otomatis perbaikan diri. Selesainya sebuah agenda atau tugas akan melahirkan agenda-agenda serta tugas-tugas yang baru dan pastinya membutuhkan perjuangan yang tak sedikit.

Dari hal ini sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat tawwaaqah..تواقة sebagaimana ucapan Umar bin Abdul Aziz...

إن لي نفسا تواقة ، كلما وصلت إلى أمر تاقت إلى ما هو أعلى 

"Aku memiliki jiwa 'ambisius' setiap aku tiba pada satu perkara, aku ingin mencapai yang lebih tinggi lagi..."

Bukankah Allah telah berpesan :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)
"Jika engkau selesai atas suatu perkara, maka mulailah (dengan perkara lainnya).."

Hidup adalah rentetan agenda dan rincian tugas, hal ini takkan pernah usai hingga kita masuk ke liang lahat, bagi mereka yang hidup dengan bersantai ria maka sesungguhnya ia telah melalikan tugasnya dan seperti halnya di kantor bagi yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak berusaha menyelesaikan tugasnya maka ia akan terdepak atau bahkan dipecat. Demikian pula seorang muslim jangan sampai kita "dipecat" oleh Allah, bentuk PHK dari Allah tentu berbeda dari manusia, minimal bentuknya adalah diredupkannya cahaya jiwa kita dan hatinya. Gempuran tugas yang memiliki konsekuensi perjuangan memang tampak melelahkan namun insya Allah jiwa kita akan tercerahkan.

Sebuah contoh nyata adalah saudara-saudara kita di Palestina mereka melaksanakan tugasnya dan kewajiban kita (muslim) untuk mempertahankan izzah kaum muslim diseluruh dunia, boleh jadi Al-Aqsho berada di Palestina namun masjid suci itu adalah milik Muslim sedunia. Walaupun dihadang masalah hingga lintas generasi tapi semangat mereka tak mati bahkan ribuan hafidz lahir di bumi Palestina Allahu Akbar....

Bagaimana Allah akan menutup rizki seseorang jika mereka bekerja dengan baik, berusaha dengan baik dan sesuai keinginan Allah dan Rasul-Nya, jika memang demikian dimana Maha Adilnya Allah. Jangan pernah berhenti untuk menjadi yang terbaik, jangan pernah mundur dari setiap tugas dan agenda, tugas dan agenda hanya akan memberikanmu derajat harga diri yang jauh lebih tinggi dan pembuka keberkahan bagi kehidupanmu. Demikian juga dengan semangat dan ruh Ramadhan jangan berhenti sampai bulan Ramadhan saja. Never Stop!!!!
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧)

Minggu, Agustus 4

Do'a itu...


رَبَّنَا وَ ابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْم
 
Ya Tuhan kami ! Bangkitkanlah di antara mereka itu seorang Rasul dari mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmat, dan akan membersihkan mereka; sesung­guhnya Engkau adalah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana . (QS 2:129)


Suatu ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah "ceritakanlah dirimu...." sebelum bertutur tentang kisahnya beliau mengawalinya dengan kata dengan sepenuh kerendahan hati "aku hanya doa yang dipanjatkan Ibrahim -alaihissalam-...."

Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Ibrahim -alaihissalam-? Salah seorang penyandang Ulul Azmi, kakek para Nabi, Sebuah simbol dari kesabaran yang berlipat-lipat, seorang kekasih Ar-Rahman. Doanya yang diabadikan dalam Al-Quran, telah menyebrangi masa, waktu dan zaman, kurang lebih 4000 tahun doa itu baru terealisasi. Pertanyaannya bisakah kita menunggu selama itu?

Sobat, dari doa ini kita belajar bahwa dari sebuah doa yang terpenting bukanlah seberapa cepat ia dihijabah, tapi seberapa masif manfaat dari sebuah doa itu. Walaupun doa Ibrahim -alaihissalam- terkesan hanya untuk bangsa arab saja, tapi lihatlah betapa Rasulullah sendiri benar-2 menjadi Rahmatan lil Alamiin. Bahkan masuknya agama Mulia ini ke negera kita juga berkat doa dari Nabi Ibrahim -alaihissalam-, kita berhutang pada beliau, bahkan muslim didunia juga merasakan efek manfaat dari doa beliau.

Realisasi sebuah doa bukanlah harus sekarang juga, atau secepatnya tapi doa adalah manfaat yang bisa jadi berlipat dan itu mungkin doa untuk anak cucu kita. Nah, Allah itu maha luas RezkiNya, Maha Luas Pengetahuannya, lantas apakah kita akan membatasi segala keMahaan Dia dengan doa yang "hanya" untuk kita saja, tak inginkah sejarah mencatat bahwa kondisi terbaik disebuah zaman anak cucu kita adalah benih doa kita selama ini...

Sabtu, Agustus 3

Menangislah....

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ أَبَدًا: عَيْنٌ بَاتَتْ تَكْلُأُ الْمُسْلِمِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Dari Anas bin Malik, Rasululah Shallallahu'alaihi wassalam bersabda: "Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka selama-lamanya: mata yang begadang malam untuk menjaga kaum muslimin di jalan Allah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah."  Hadits Shohih   (HR. Abi Ya'la al-Mausili dalam Musnad no. 4346 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Jami'ush Shoghir no. 4113 dan Shohih At-Targhib wat Tarhiib no. 1230)

Sobat tak terasa Ramadhan sudah berada diujung dan akan segera akhir, apakah kalian akan merindukannya tahun depan? Apa alasan kalian hendak berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan? Yakinkah kalian dengan keinginan perjumpaan ini, apa tandanya jika kalian merindukan Ramadhan tahun depan? Apa pertanyaan ini cukup memeras otak untuk menjawabnya? ataukah pertanyaan ini cukup membuat anda risih?

Buat kalian yang cukup susah menjawab pertanyaan ini, segeralah menangis? Apa yang membuatmu begitu susah menjawab pertanyaan ini? Bukankah kalian sudah puluhan kali bertemu dengan Ramadhan? Sekali lagi menangislah jangan2 puasa ini hanya bagian dari agenda rutinitas yang tak berarti apa2? boleh jadi kita bertemu puluhan kali dengan Ramadhan tapi tak ada tanda-2 kita mencintai, menyenangi bahkan merindukannya. Sekali lagi menangislah? Apakah menangis juga begitu susah? Apakah ramadhan tahun ini tidak juga melembutkan hati ini? Padahal Mata yang menangis karena takut pada Allah dijamin takkan tersentuh oleh api neraka?

Jika kita saat ini hidup dijaman Rasulullah dan para sahabat, pastinya tangisan-tangisan akan selalu akrab ditelinga kita apalagi menjelang akhir ramadhan seperti ini. Menangis bukanlah hal yang memalukan, mungkin buat sebagian orang itu adalah simbol kelemahan sekalipun itu untuk alasan ibadah. Bagiku menangis seperti ini justru simbol kekuatan, artinya hati kita begitu lembut, dan kelembutan hati yang dimiliki oleh orang-orang yang sangat dekat dengan Sang Maha Perkasa lagi Gagah. Saat manusia dekat dengan Maha dari segala Maha apa lagi yang sanggup melumpuhkannya? Sekalipun seluruh makhluq dijagad raya ini bersatu untuk melumpuhkannya maka sesungguhnya Allah memegang ubun-ubun mereka.

Wahai hati yang masih peduli akan kebenaran hakiki menangislah, jika kalian tak mampu menangis maka menangislah karena ketidak mampuanmu menangis. Disaat-2 kesendirianmu lihatlah, berkacalah apakah diri ini pantas mengharap surgaNya? Padahal Nabi Adam -alaihis salam- diusir dari surga lantaran melanggar 1 larangan Allah, nah kita sudah berapa larangan yang kita langgar? Bukan cuma sekali duakali mungkin sudah tak terhitung, lantas pantaskah diri ini meminta surgaNya? Tapi benarkah kita sanggup berada di nerakaNya yang Maha Dahsyat siksanya? Tameng macam apa yang mampu menahan siksaan Jahannam? Hanya ampunan yang kita harapkan, tapi ampunan itu menjadi barang mahal saat diri ini mulai tak tahu diri. Mohon ampun tapi sesaat kemudian kembali berbuat maksiat. Tapi itulah manusia, maka perlu kekuatan untuk menjaga ampunan Allah agar selalu menjadi prioritas kita, tak lain tak bukan adalah adanya Azzam atau tekad yang membaja. Kekuatan Azzam seperti ini hanya akan diberikan kepada mereka yang selalu melembutkan hatinya, salah satu indikasi kelembutan hati adalah mudah menangis.

Masih ada beberapa hari sebelum Ramadhan beranjak dari singgasananya, sgeralah buang kemalasan, jemputlah ampunan Allah yang seluas langit dan bumi, raih sisa simpati Allah dengan kesungguhan, jangan ragu untuk menitikkan air mata, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang selalu bertaubat. Inilah salah satu alasan Allah menjadikan para sahabat menjadi pemimpin dunia waktu itu, kelembutan hatinya mampu membuat lawan takluk, membuat kawan semakin yakin. 

Jumat, Agustus 2

Antara Kualitas dan Kuantitas

Bagi sebagian saudara kita kuantitas adalah segalanya, demikian pula sebagian saudara kita yang lain beranggapan bahwa kualitaslah yang menentukan. Tak ada yang salah, apalagi buat ibadah baik kuantitas dan kualitas sangat penting. Sobat bicara soal ibadah langsung saja kita merujuk kepada sang Ahli Ibadah terbaik sepanjang masa siapa lagi jika bukan Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-. Tidak diragukan lagi jika kedua hal tersebut (kualitas dan kuantitas) selalu menyertai ibadah-2 beliau.

Demikian pula para generasi terbaik dimasa beliau, kualitas dan kuantitas menjadi sangat utama, namun ada satu hal yang menjadi pengiringnya. Istiqomah.... Diantara kualitas dan kuantitas ada penyelaras yang disebut Istiqomah, apalah artinya ibadah dengan kuantitas luar biasa tapi hanya sekali saja, demikian juga ibadah dengan kualitas yahud tapi hanya sekali saja.

Rasulullah bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : سُئِلَ النَّبِيُّ صلم أَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوْا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيْقُوْنَ. (رواه البخارى

Artinya :” Dari Aisyah r.a. berkata : Nabi pernah ditanya :”Manakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda :”Yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit”. Beliau bersabda lagi :”Dan lakukanlah amal-amal itu, sekadar kalian sanggup melakukannya.” (HR. Bukhari)
Allah menganugerahi para auliya’ kekuatan yang manusia lain tidak mampu melakukannya, dan karamah yang terbaik adalah kesuksesan yang terus menerus. Bagi manusia biasa adalah dengan menjaga kesinambungan perilaku-perilaku yang baik, pada cara atau arah yang benar. Misalnya : tidak baik bila shalat 100 rakaat pada hari ini, 2 rakaat esok hari, kemudian tidak shalat sama sekali pada lusanya, lalu 50 rakaat pada hari selanjutnya. Yang terbaik adalah ibadah secara berkesinambungan. Jika sekarang shalat 5 kali sehari, lanjutkan terus dengan shalat 5 kali sehari. Jangan melakukan terlalu banyak pada suatu hari untuk kemudian berhenti selama sebulan. Sabda Nabi, “Jika kalian meraih istiqomah/konsistensi, itulah sebuah karamah, kekuatan yang Allah anugerahkan dalam hati kalian.” 

Dalam hadits lain, rasulallah SAW. Juga bersabda:

وعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : لِى رَسُوْلُ اللهِ صلم يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ. (متفق عليه

Artinya :” Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. dia berkata : Rasulullah SAW bersabda :” wahai Abdullah janganlah kamu seperti Fulan, dia melakukan sholat tahajjud, lalu meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebosanan juga bisa menyerang kita saat beribadah. Hal ini sudah dirasakan oleh sahabat pada masa rasulullah. Melakukan ibadah dengan interval yang terlalu dekat dan dengan jumlah yang terlalu banyak dapat membuat pikiran kita jenuh yang selanjutnya akan mempengaruhi kita untuk meninggalkannya dalam beberapa saat sehingga akan merusak kualitas ibadah tentunya kuantitasnyapun nyaris nihil dan yang paling utama, yaitu istiqomah. 

Lantas bagaimana dengan Ramadhan ke Ramadhan, di awal Ramadhan masjid, surau begitu semarak dan saat ini (10 hari terakhir) shaf pun mengalami "kemajuan" yang sangat pesat. Mana kuantitas ibadah kita yang minimal 11 rakaat setiap malam? Mana kualitas ibadah kita yang hadir saat awal Ramadhan? Tidak ada ke istiqomahan dalam beribadah adalah hal yang berbahaya, bisa-bisa ibadah kita hanya bernilai ikut-ikutan alias musiman. Salah satu indikasi Ramadhan menyapa kita adalah semua kuantitas dan kualitas ibadah selama Ramadhan terjaga di bulan syawal dan seterusnya. Hal ini menuntut kemauan dan keteguhan hati yang benar2 dalam menjaga ibadah itu sendiri. Ramadhan melatih kita supaya istiqomah, jika keluar dari Ramadhan tidak ada lagi istiqomah maka apa layak kita disebut sebagai pemenang?

Keistiqomahan hanya akan didapat buat mereka yang selalu berusaha secara sungguh-2 menjaga apa yang telah dilakukan selama Ramadhan ini, lisannya, matanya, kakinya, perutnya juga semangat ibadahnya. Sepertinya sungguh berat, memang Istiqomah itu sangat berat tapi ingat kita punya Allah yang merajai hati kita, yang Maha membolah balikkan hati, memohonlah padaNya agar selalu diberikan tsabat dalam ibadah termasuk kualitas dan kuantitasnya.

Kamis, Agustus 1

Mendaftar dimana?

Ada sebuah anekdot yang cukup menarik buat kita, penyesalan selalu datang diakhir kalo didepan namanya pendaftaran. Bener juga ya... sobat jika penyesalan itu terjadi saat kita masih hidup maka masih ada kemungkinan untuk didaftarkan kembali untuk hasil yang lebih baik, tapi bagaimana jika penyesalan itu terjadi saat kita sudah mati?

Pernahkah kita memikirkan saat diakhirat nanti kita mendaftar dimana? Surga atau neraka? Secara jawaban saya yakin 100% bahkan lebih kita semua akan memilih surga, tapi soal persiapan masuk atau mendaftar kesana wallahualam. Sangat penting untuk dipikirkan, kenapa karena ini akan mempengaruhi semua tingkah laku baik lahir maupun batin. Bisa gak sih tempat tinggal di kampung abadi ini dijadikan obsesi, layaknya orang yang sedang terobsesi akan sesuatu maka sebisa mungkin dia akan meniru atau mengejar obsesi itu. Sobat mari kita sedikit rubah makna sukses, minimal buat pribadi ini. Bagaimana jika sukses itu kita maknai saat kaki ini sudah menjejak di surga. Setuju tidak?

Jadilah pribadi-2 yang selalu mengejar dan merindu surga. Seperti halnya akan masuk ke sebuah Perguruan Tinggi bonafit dan favorit maka testnya sangat susah bahkan tak sedikit yang harus kita korbankan, pikiran, tenaga, waktu bahkan harta. Demikian pula surga, ia akan menuntuk segala-galanya bahkan hingga nyawa sekalipun, namun buat sebagian manusia surga hanya tinggal cita-cita yang tak kunjung terealisai. Surga adalah tempat manusia2 kuat, teguh dan sabar. Bagi sebagian manusia surga hanyalah mimpi yang terkadang termarginalkan oleh kondisi pribadi yang ringkih.

Memang kita dipastikan bukan manusia ke 11 yang dijamin masuk surga, tapi bukan berati surga sudah penuh dan tidak menerima lagi pendaftaran. Tidak, surga akan selalu sabar menanti kita, salah satu bentuk cinta Pemilik Surga adalah adanya bulan Ramadhan dimana langit dibuka dan di sepertiga akhir pintu neraka ditutup rapat-rapat, Dia menebar harapan bahwa surga membuka pendaftaran unlimited. Didalam Ramadhan terdapat sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan, ia bisa menjadi kafarat atas semua dosa-2 kecil yang selama ini kita lakukan. Bagaimana dengan dosa besar selama ini? Allah masih membuka pintu taubat apa lagi dibulan suci yang dipenuhi dengan rahmat-Nya, Maghfirah-Nya, tunggu apa lagi wahai hati yang gelisah?

Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa di surga setiap pria beristri dua. Abu Huroiroh ra. mengabarkan, Muhammad Rosuhdlah saw. bersabda, "Rombongan yang pertama-tama masuk surga wajahnya bagai bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak membuang ingus, dan tidak buang air di sana. Bejana dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Pedupaan mereka kayu gaharu yang harum. Keringat mereka seharum kesturi. Setiap pria mempunyai dua istri yang kedua betisnya ternbus pandang sehingga kelihatan sumsumnya di balik kulit karena sangat indahnya. Mereka tidak pernah marah atau bertengkar. Hati mereka senantiasa bersatu bertasbih kepada Allah SWT sepanjangpagi dan petang". (HR. Muslim)

Seluruh penghuni surga berhati bersih. Tidak memiliki rasa dendam dan dengki. Dan masing-masing merasa bersaudara. "Kami cabut segala macam dendam yang ada dalam dada mereka" (QS. 7/Al-A’rof 43) "Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara. (QS. 15/Al-Hijr: 47-48) Karena itulah interaksi yang terjadi antar sesama penghuni surga selalu damai. Sebab:
- mereka tidak mendengar perkataan yang tiada berguna (QS. 19/ Maryam: 62)
- mereka juga tidak mendengar kata-kata yang menimbulkan dosa, (QS. 56/A/- Waqi’ah: 25)
- dan tiada terdengar kata-kata dusta (QS. 78/An-Naba’: 35)

Para ahli surga pun memperoleh pendamping yang lebih baik dari pada istri-istri mereka sewaktu di dunia. "Kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah". (QS. 44/Ad- Dukhon: 54) "Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang cantik bermata indah." (QS. 52/Ath-Thur: 20)

Sebagaimana kehidupan di dunia, para penghuni surga pun mendapat makan dan minum, namun tidak pernah buang air besar atau kecil. Jabir ra. memberitahukan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Penduduk surga juga makan minum di dalamnya, namun mereka tidak meludah, tidak buang air besar atau kecil, dan tidak membuang ingus". Sahabat bertanya, "Bagaimana makanan yang mereka makan ? " Nabi saw. bersabda, "Keluar dari sendawa yang harumnya seperti kesturi. Mereka senantiasa bertasbih dan bertahmid sebanyak tarikan nafas kalian". (HR. Muslim) Berikut ayat-ayat Al-Qur’an yang mengemukakan tentang kegiatan makan minum penghuni surga, antara lain: 
- mereka (penghuni surga) memperoleh buah-buahan dan apa yang mereka inginkan. (QS. 2/Al-Baqoroh: 25)
- mereka menerima rezeki setiap pagi dan petang. (QS. 19/Maryam: 62-63)
- mereka memperoleh ucapan "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. 36/Ya Sin: 57-58)
- piring-piring di surga terbuat dari emas. (QS. 43/Az-Zukhruf: 71- 72)
- mereka (para penghuni surga makan minum dengan enak. (QS. 52/Ath-Thur: 19)
- di surga ada pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya) (QS. 56/Al-Waqi’ah: 27-34)
- di surga terdapat minuman air kafur. (QS. 76/Al-Insan: 5-6)
- buah-buahan di surga mudah dipetik. ’’Dan naungan (pepo- honan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah- mudahnya untuk memetik (buah)nya (QS. 76/Al Insan: 4) 
- bejana-bejana dan gelas-gelas di surga terbuat dari perak. (QS. 76/Al-Insan: 15-16) 
- di surga juga ada minuman jahe. (QS. 76/Al-Insan: 17-18)
- di surga ada kebun-kebun dan buah anggur. (QS. 78/An-Naba’: 31-34) 
- di surga terdapat bermacam-macam daging yang diinginkan. (QS. 52/Ath-Thur: 22) 
- di surga boleh meminum minuman keras yang tidak mema- bukkan. (QS. 37/Ash- Shoffat: 45-47)
- di surga terdapat sungai susu, madu, dan sungai arak serta berbagai macam buah-buahan. (QS. 47/Muhammad: 15)
 
Wahai sahabat tidakkah surga begitu menggiurkanmu? Tidakkah surga akan menjadi obsesimu mulai detik ini? Jangan sia-siakan Akhir2 ramadhan ini, disini begitu tersebar ampunan dan rahmat Allah, ayo segera jual belilah dengan sebaik-baik pemberi dan penepati janji, siapa lagi kalau bukan Allah Ta'ala.

Rabu, Juli 31

Demi Hidup Yang Lebih Baik

Ia layak mendapatkan perhatian khusus dari setiap muslim, iapun sangat layak mendapatkan semua yang kita miliki, ia pun sekali lagi juga sangat-sangat layak mendapatkan pengorbanan yang sangat tinggi bahkan sebagian orang mengatakan it's imposiblle. Ia adalah kalimat yang menjadi misi para nabi dan rasul, kalimat inilah yang membuat Nabi Nuh -alaihis salam- menghabiskan ratusan tahun usianya, kalimat inilah yang membuat Musa -alaihis salam- berani menantang fir'aun, kalimat ini juga yang telah membuat pasukan badar menjadi pasukan pilihan, kalimat inilah yang membuat Rasulullah tidak mau menerima matahari ditangan kanannya juga bulan ditangan kirinya. Kalimat ini telah mendapatkan torehan tinta emas sepanjang sejarah hidup manusia, sayangnya para pendengki kalimat ini mencoba menutupi kalimat ini dengan berbagai propaganda serta kamuflase tingkat tinggi tapi tetap saja takkan mungkin tertutupi semuanya. Kalimat ini adalah cahaya dari Pemilik Cahaya. Dialah syahadat. Dia mudah diucapkan namun sedikit yang mampu berkomitmen dengan kalimat ini. 

Perjanjian bahwa tak ada ilah (sesuatu yang disembah baik makna lahir ataupun batin) kecuali Allah Ta'ala, membutuhkan kominten yang teguh untuk merealisasikan dan menampakkannya. Tak ada gading yang tak retak, termasuk penulis masih banyak komitmen dengan syahadat ini yang harus diperbaiki, tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi dan dilewati. Kita hanyalah manusia yang menjadi tempat salah dan kealpaan, namun justru karena predikat itulah Allah memberikan nafsu dan akal pada kita. Dengan keduanya itu kita bisa lebih rendah dari pada hewan atau malah bisa lebih tinggi dari pada malaikat. Hanya komitmen pada syahadat yang menjadi tali kekang keduanya. 

Komitmen tak harus bisa dijelaskan tapi ia menuntut doktrin yang sangat kuat pada hati ini. Syahadat adalah satu-satunya alasan kita berubah menjadi lebih baik. Seperti Umar bin Khattab, sejarah jahiliyah mencatat beliau adalah seseorang yang sangat benci kepada Islam dan Muhammad, Beliau jago gulat, tegas dan tak segan-segan membunuh putri kandungnya. Tapi sedetik setelah beliau menyatakan syahadat 180% beliau berubah semua perangainya mengikuti apa yang dianjurkan Rasulullah ketegasannya untuk memuliakan dan memajukan Islam, kegarangannya untuk kaum kafir quraisy. Kebenciannya adalah untuk musuh Allah dan Rasulnya. 

Sebut saja seorang pemuda Mus'ab bin Umair, manusia yang jarang memiliki kelebihan kebanyakan manusia, beliau adalah seorang yang rupawan namun cendekiawan, keturunan bangsawan yang otomatis beliau seorang hartawan. Sebelum masuk islam beliau menggunakan kelebihannya itu untuk kesenangan pribadi, setelah masuk islam beliau rela meninggalkan kesenangnnya itu hingga bajunyapun seperti seorang gembel. Beliau rela memberikan tubuhnya dan wajahnya yang rupawan demi melindungi Rasulullah di perang uhud. Saad bin abi waqash seorang pemuda yang luar biasa sayangnya kepada ibundanya, namun karena berbeda keyakinan beliau lebih memilih islam dari pada harus menguikuti kemauan ibundanya tercinta. Hingga beliau pernah berkata kepada ibundanya dengan lemah lembut "Maaf ibunda demi Allah sekalipun ibunda punya 9 nyawa dan dicabut satu persatu dihadapanku, niscaya aku takkan akan merubah keyakinanku pada Muhammad", walaupun demikian beliau tetap menghormati ibundanya.

Masih banyak kisah yang menunjukkan betapa kalimat syahadat mampu merubah seseorang, namun sayangnya kita tak juga ada memikirkan hal ini, kita masih mencari momentum dan titik balik untuk berubah. Tak cukupkah syahadat yang kita baca disetiap adzan, iqomah dan sholat, inilah keberhasilan propaganda dan kamuflase musuh-musuh Allah, syahadat bagi sebagaian saudara kita adalah hanya sebatas syarat dan rukun. Wahai saudaraku jika kalian akan melamar pekerjaan, kalian pasti diminta beberapa syarat dan kalian tahu betul apa urgensi syarat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, dengan mempertaruhkan apasaja kalianpun berusaha mendapatkannya. Demikian juga Allah Ta'ala menjadikan syahadat sebagai syarat dan rukun bukan tak ada urgensinya. Demi kehidupan yang lebih baik adalah rangkuman dari sekian banyak urgensi sayahadat itu sendiri. Memperbaiki diri semakin hari adalah dambaan setiap manusia, inilah yang diajarkan syahadat. 

Kata "ilah" dalam syahadat adalah hal mutlak menafikan segala macam atau bentuk perbudakan kecuali kepada Allah. Segala alasan tindak tanduk kita harus beralasan karena Allah. Ia adalah motivasi tunggal kita, baik lahir maupun batin, hati kita sekalipun harus tetap menjadikan Allah sebagai alasan tunggal. Allah harus menjadi dan merajai semua aktivitas lahir dan batin kita, saat itu tercipta maka semua sholat kita, puasa kita, zakat kita, haji kita dan serangkaian ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah memberikan bekas yang nyata yakni amar ma'ruf nahi mungkar. Dengan izinNya tak adalagi kekacauan, keributan dan peperangan. Tapi Allah masih menguji kita dengan orang-orang yang anti pada syahadat sebagai ajang pembuktian siapakah yang paling berkomitmen. 

Syahadat menciptakan dan membentuk pribadi-2 yang taat pada Allah Ta'ala, namun demikian bagi mereka yang memiliki akal, sesungguhnya ini hanyalah permainan Allah saja, mau taat atau tidak itu terserah kita, namun pada akhirnya kita juga akan kembali kepada Allah dan Dia akan menjadi Hakim di Maha Pengadilan kelak. Lantas kenapa kita menunda ketaatan? Percaya atau tidak kehidupan yang lebih baik hanya bisa kalian raih dengan benar2 dengan menjaga komitmen pada syahadat itu. Karena inilah yang disampaikan dalam mukaddimah Al-Quran yang tidak ada keraguan didalamnya.

Abu Jahal mengatakan bahwa kalimat syahadat itu hanya akan melahirkan perang diantara suku mereka, sesungguhnya ini adalah kefahaman dia pada makna dan urgensinya yang begitu agung, namun nafsu dan akalnya telah merajai jabatannya di kaumnya saat itu, maka ia sangat takut akan kehilangan itu semua. Sekali lagi bahasa kita tidak kuasa menerangkan betapa syahadat sudah menjadi alasan yang kuat untuk merubah kehidupan kita menjadi lebih baik, tapi yakinlah pada bahasa dan isyarat hati yang telah diberikan oleh Allah. Rajin-rajinlah membaca ayat-ayatNya yang ada disekitarmu, ini adalah sebaik-baik jalan yang kalian pilih AL-Islam. Sebagai hamba yang lemah jangan malu2 untuk berdoa padaNya untuk djadikan orang-orang yg selalu menjaga komitmen ini.

Selasa, Juli 30

Jangan tunda lagi...

Sepuluh hari yang biasa disebut sebagai pembebasan dari api neraka, tapi kenapa banyak mereka yang tidak mau dengan mega discount dari Yang Maha Kaya itu? entahlah mereka tidak tahu atau tidak mau tahu atau memang tidak mau mendapatkan ampunan tersebut. Dengan beragam alasan dan kilahan mereka hanya "gemar" menjadi penonton. Salah satu pintu untuk menuju pembebasan dari api neraka adalah taubat. Taubat ternyata bukan hanya sekedar ikrar seorang hamba yang pernah bersalah atau maksiat. Tapi lebih dari itu taubat adalah ibadah, karena semua ibadah intinya adalah mendekatkan diri dengan Allah Ta'ala.

Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222).
 Lantas apakah yang lebih didambakan dari seorang hamba kalau bukan kasih sayang "sang Tuannya"? Inilah waktunya sobat, lebih intenslah berkomunikasi dengan Allah di masa-2 injury time ini. Hanya tinggal 10 hari sekali lagi kurang dari 10 hari Ramadhan akan segera berlalu. Terkadang beberapa atau sebagian besar saudara kita jika berbicara soal pengampunan atau taubat maka yang terbayang adalah usia 50-70 keatas aja.... seolah-olah usia dibawah itu belum memerlukan taubat. Dalam sebuah hadist 
Anas bin Malik r.a. berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w. “ Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat seorang hambaNya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba, untanya yang telah hilang daripadanya di tengah hutan.”
(Bukhari, Muslim).
Dalam riwayat Muslim: “Sungguh Allah lebih suka menerima taubat seseorang hambaNya, melebihi dari kesenangan orang yang berkenderaan di hutan, kemudian hilang daripadanya, sedangkan kenderaan itu penuh dengan bekal makanan dan minumannya, sehingga ia patah harapan untuk mendapatkannya kembali, lalu dia duduk di bawah pohon dengan kecewa dan putus asa. Tiba-tiba ketika dia bangun dari tidurnya, kenderaannya telah ada. kembali di depannya lengkap dengan bekalannya, maka segera ia pegang kendalinya sambil berkata, “Ya Allah Engkau hambaku, dan Aku Tuhanmu.” (Terlanjur / keliru lidahnya kerana sangat gembira.)”
*** Sepatutnya dia berkata, “Ya Allah Engkau Tuhanku dan Aku hambaMu.” Tetapi tersasul lidahnya sebagaimana di atas itu.
Maka Allah lebih gembira menerima taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menemukan kembali harapannya itu.
Maka sekali lagi Allah jauh lebih gembira dari perumpamaan hadist diatas. Kita ini adalah makhluq yang dekat dengan salah atau malah tempatnya kesalahan, lho terus ngapain minta taubat segala kalau memang fitrah kita seperti itu? Justru itulah keunikannya, Rasulullah saja menyebut sebaik-baik manusia adalah bukan yang tak pernah berbuat salah tapi justru mereka yang berbuat salah lalu mereka bertaubat. 
Masa inilah masa yang sangat tepat untuk mengurai air mata penyesalan, air mata kesungguhan akan azzam untuk tidak mengulang  kesalahan yang sama. Masa inilah yang sangat tepat untuk meminta simpati Allah Ta'ala, walaupun bergelimang dosa-dosa yang hampir menghitam legamkan hati kita namun ada sedikit saja yang tersisa maksimalkan sisa ruang sadarmu untuk bertaubat, dan rasakanlah dahsyatnya energi taubat.
Bukan hanya soalan merendahkan diri dihadapan Allah, tapi menjiwai kerendahan serta rasa butuh pada-Nya adalah sesuatu yang menjadi dasar dari setiap laku kita. Singkatnya taubat bisa menjadi dasar perubahan akhlaq kita. So... gak terlalu berlebihan jika mereka yang memperoleh Lailatul Qadar adalah mereka yang telah memperbaharui akhlaqnya dengan semakin cantik dan mengesankan. Tidak berlebihan juga jika dikatakan bahwa malam yang jauh lebih baik dari 1000 bulan itu hanya bisa didapat buat mereka yang selalu dan selalu berusaha memperbaharui taubatnya. 
Tunggu apalagi saudaraku.... taubat bukan soalan usia, taubat bukan hak paten para kakek dan nenek tapi adalah kewajiban setiap insan yang merasa terpanggil untuk berpuasa dan menjaga kualitas puasanya.

Senin, Juli 29

Berhentilah sejenak

Sobat apa kabar iman dan hatimu hari ini? Apa yang telah kamu lakukan selama 20 hari terakhir ini? Adakah kamu merasakan bagaimana Allah itu begitu baik dan sayang? Tidak kau dengar sirine mobil ambulance yang tiap sebentar parkir di rumah sakit terdekat? Lalu bagaimana jika Izrail tiba-2 menghampirimu? Apa yang hendak kau tawarkan padanya, demi melanjutkan sisa Ramadhanmu? Maka berhentilah sejenak.... sisakan hari ini dan seterusnya untuk melatih iman dan hatimu. 20 hari terakhir ini sudah berapa kali tidak sholat berjamaah? tidak sholat malam? tidak sholat dhuha? tidak bersedekah? berhentilah sejenak dari rutinitasmu, kurangi waktu rutinitasmu sejenak untuk memuliakan 10 hari terakhir ini. Sisa hari Ramadhan ini adalah hari-hari pembebasan dari Api neraka. Apakah sudah merasa terlalu banyak pahala, membuat kita tak mau berhenti sejenak demi 10 hari terakhir ini....? 

Rasulullah saja yang diampuni dosa-dosanya masih saja melakukan shaum, sholat malam hingga bengkak kakinya juga i"tikaf. Kita juga bukan orang ke 11 yang dijamin masuk surga, tapi kenapa kita masih mampu berleha-leha di 10 hari terakhir kedepan. Saya hanya bisa mengajak kalian semua untuk kembali tilawah, kembali menata puasa yang tinggal 10 ini, kembali memenuhi shaf-shaf masjid yang mulai terancam punah, juga tambahkan dalam agenda untuk i'tikaf jadilah sang pemburu Lailatul Qadar. Jangan merasa aman dari makar sang pemutus semua nikmat, Izrail, kapan saja dia siap mencabut nyawamu. Tidak ada kata terlambat sebelum nyawa di tenggorokan. 

Berhentilah sejenak wahai saudaraku, mari bersama membangun rumah-rumah di surga, rumah disana tidak butuh pasir, semen apa lagi batu bata tapi ia hanya butuh amal yang ikhlas, amal yang dicontohkan oleh Rasulullah dan istiqomah. Jangan biarkan hatimu ringkih dan kering, tilawah adalah obatnya, jangan biarkan hatimu sakit-sakitan, bahkan mati... selalulah mendekat pada-Nya, Rasulullah menganjurkan i'tikaf, jangan sampai tidak mencoba kenikmatan i'tikaf tahun ini dan bersiap-siaplah ketagihan tahun2 mendatang, Insya Allah.

Saat dekat dengan Allah maka apa sih yang tidak mungkin? Saat kita mengejar dunia maka kita akan jadi budaknya, tapi jika Allah yang menjadi motivasi dan keinginan terkuat kita maka dunia akan melayani kita. Tidak inginkah menjadi orang-orang yang dekat dengan Allah, kedekatannya tidak melulu harus dimasjid, tapi ikatan hati dengan masjid harus selalu terjaga, Tampilan hati menjadi prioritas dibanding tampilan fisik. 

Sekali lagi berhentilah sejenak... buktikan cinta Allah jauh lebih baik dari pada dunia seisinya.... buktikan di 10 hari terakhir.... berhentilah saudaraku, 10 hari terakhir ini Allah tutup rapat-rapat pintu neraka dan selalulah meraih simpatiNya, buktikanlah bahwa kita adalah manusia yang layak menghuni surga-Nya walaupun kita bukan orang ke 11 yang dijamin masuk surga. Wahai pemburu Lailatul Qadar bersiaplah dan jangan sampa harimu berlalu sia-sia....

Minggu, Juli 28

Surat buat adik remajaku

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kepada semua adik remajaku
dimanapun saat ini

Semoga kalian selalu dan selalu dalam lindungan Allah Ta'ala juga dalam rengkuhan cinta serta sayangNya. Wahai adik remajaku dimanapun saat ini entah bagaimana aku bisa memberitahukan bahwa betapa aku mencintaimu serta menyayangimu tentunya karena Allah. Sedang apa kalian saat ini? Saat aku menulis surat ini hatiku dalam keadaan hancur dan luluh lantak, tapi sehancur apapun hati ini aku masih menyimpan serta menaruh harapan pada kalian semua. Kalian bukan hanya sekedar simbol atau maskot bagi bangsa ini namun juga adalah gambaran kedigdayaan sebuah bangsa beberapa tahun kedepan. Tapi apakah kalian sependapat denganku akan hal ini? Apakah cinta dan sayangku ini hanya bertepuk sebelah tangan saja? Setiap kulihat berita tentangmu ada perasaan kagum seperti yang adik remajaku di palestina dan mesir, tapi tak sedikit juga aku merasa teriris sembilu saat menyaksikan kalian sebagai agen "kehancuran" bangsa ini, narkoba, miras, prostitusi dll. 

Ada sedikit anekdot tentang kalian, walaupun sekedar anekdot tapi kisah ini syarat akan nilai dan pesan sangat agung. Tersebutlah negara muslim yang bertetangga dengan negara kafir. Negara kafir ini hendak menjajah dan merebut kekuasaan negara muslim, berpuluh-puluh tahun rencana ini berhasil nihil alias tak berhasil, raja-taja negeri kafir itupun bersilih berganti sampai suatu ketika sang raja meminta kepada salah seorang prajuritnya untuk memata-matai negara muslim. Dengan menyaru sebagai seorang muslim dari pakaian hingga logat, berangkatlah prajurit ini kenegeri muslim. Setibanya disana prajurit ini melihat seorang pemuda muslim sedang menangis tersedu-sedu sampai bengkak matanya, lalu terjadinya percakapan :
Prajurit : Wahai fulan kenapa kamu menangis, sepagi ini?
Pemuda : Celakalah diriku wahai saudaraku, celakalah aku, celakalah aku...
Prajurit : Ceritakanlah padaku... siapa tahu aku bisa membantumu?
Pemuda : Tak mungkin tak mungkin....
Prajurit : Sebegitu beratkah masalahmu wahai saudaraku?
Pemuda : Bagaimana tidak hari ini aku terlambat sholat subuh berjamaah
Prajurit negeri kafir itu segera berlalu dan melaporkan kepada sang raja, dan sang raja bertitah "bukan saatnya menyerang mereka..."
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan tahun-2pun berlalu rajapun berganti kembali. Untuk kesekian kalinya lagi sang raja meminta salah seorang prajurit memata-matai negara muslim demi kepentingan yang sama. Singkatnya prajurit kembali sampai di negara muslim, dan kali inipun bertemu dengan lain pemuda yang menangis sejadi-jadinya, terjadilah percakapan :
Prajurit : wahai saudaraku apa yang membuatmu seperti ini?
Pemuda : Hancur, sudah berakhir hidupku sudah berakhir
Prajurit : ada apa, ceritakanlah padaku...
Pemuda : Celakalah aku wahai saudaraku, kekasihku hari ini memutuskanku, dia mencintai pemuda lainnya...
Sebuah berita kata prajurit dalam hati, tak lama sang raja telah menerima kabar itu lalu bertitah "akhirnya... setelah sekian puluh tahun inilah saatnya menyerang mereka siapkan prajurit...."
Dalam waktu yang singkat negara muslim telah dikuasai oleh negeri kafir.

Adikku yang dirahmati Allah, saya teringat dengan firman Allah :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (Qs 2:120)

Sebagai pemuda-pemudi muslim mereka (musuh-musuh Allah) tau betul akan kemampuan dan potensi besar kalian maka mereka sebisa mungkin mematikan serta melalaikanmu dari potensi itu. Pembaharu, Perubah dan Penggerak itulah fitrah kalian, dengan semangat pemuda seperti inilah Allah menjadikan Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th) Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th) Saad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th) Umar bin Khotobb (27 yh), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th) sebagai sahabat Rasulullah sekaligus pelopor dalam perkembangan Islam hingga saat ini. Kalian di tanamkan bahwa masa muda itu adalah masa yang tepat untuk bersenang-senang bukan untuk memikirkan hal-hal yang jauh kedepan, sekali lagi kenalilah dan kembalilah pada fitrah kalian wahai adik remajaku. 

Harus ada sesuatu yang menjadi pemicu kalian bisa mengenal betul dan paham betul akan fitrah kalian yakni agama. Demi Allah agama kita (Islam) tidak pernah sekali-kali membatasi kalian dalam segala hal, Islam hanya membantu dan membuat kalian lebih hidup, lebih manusiawi dan lebih bermartabat dan juga lebih memiliki harga diri. Wahai adik remajaku ajaran mana yang membuat kalian merasa "dibatasi"? Kalaupun muncul pernyataan Islam telah melarang kita bersenang-senang, sebut saja dalam hal makanan dan minuman, padahal semua di muka bumi inikan buat manusia kenapa malah tidak boleh...? Adik remajaku kalian benar akan pernyataan bahwa semua ini adalah untuk kita, tapi apakah semua yang untuk kita itu harus diloss begitu saja? Islam melarang kalian memakan beberapa jenis hewan, bangkai, darah dll dan melarang khamer, kalian bisa mencarinya di semua buku dan internet. Al-Quran memang hanya secara global menyatakan haram tapi akhir-akhir ini terbukti apa bahayanya buat tubuh kita, akal kita bahkan kesehatan kita. Wahai adikku kalian lebih paham dari pada aku tapi kalian terlalu egois untuk mengakuinya. 

Demikian pula soal cinta. Islam adalah agama cinta, Islam tidak mengenal adanya kekerasan. Itu adalah kamuflase pada ajaran Islam yang ditanamkan pada kalian bahwa Islam adalah teroris, Islam itu kejam buktinya ada kisas dan sebagainya. Bahkan berpakaian saja harus dijaga dan berbagai aturan yang membatasi lainnya. Adikku... Kalian semua adalah orang-orang yang cerdas, buku atau sejarah bukanlah hal yang baru untuk kalian, sekarang silahkan baca kembali sirah "Sang Al-Quran Berjalan" Rasulullah sallallhu alaihi wasallam bagaimana beliau saat berperang, saya mencontohkan perang karena tidak ada perang yang manusiawi kecuali perang yang sesuai dengan ajaran Islam. Sedikitnya saat beliau menyiapkan pasukan untuk berangkat berperang beliau selalu  berpesan, tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, tanaman, ternak. Logikanya mana ada perang yang tidak akan mengorbankan anak-anak dan wanita apalagi tanaman dan ternak, tapi inilah yang beliau ajarkan.... bongkar keegoisan kalian wahai adikku... bukankah Islam itu rahmatan lil alamin. Siapakah yang lebih kejam dari pada Israel yang sengaja membunuh anak-anak bahkan balita dan wanita, dan kalian bilang mereka adalah bagian dari polisi dunia yang menumpas para teroris? Siapakah yang teroris wahai adikku? Mereka yang berusah sujud dan ruku' dengan tenang atau mereka yang membantai orang yang sedang sholat berjamaah?

Cinta kalian kepada lawan jenis juga di bungkus dengan sedemikian indah. Pernikahan bukan pembatasan tapi ini adalah penghormatan pada cinta itu sendiri, Islam menyebut perjanjian yang agung, jikalaupun kalian berpikir pernikahan itu sulit, sumber masalah, sumper pertikaian dan malasah dari masalah, itulah adalah bagian pemikiran yang disebar untuk kalian agar tidak menikah jika tidak terpaksa. Aku bertanya pada kalian wahai adikku jauh dalam lubuk hati kalian manakah yang lebih kalian sukai barang second atau barang yang baru? ini bukan soal mahal atau murah, jawab saja barang second atau baru? Lebih elok mana barang yang dietalase atau yang diobral? Inilah Islam, jauh sebelum kepernikahan Islam telah memanusiakan kalian, berpakaian yang menutup aurat agar kalian menjadi barang yag selalu baru dan selalu di etalase. Kalaupun ada yang berkomentar berjilbab tapi kok akhlaqnya jelek... maka wahai adik remajaku jawablah jilbab dan akhlaq adalah 2 hal yang berbeda, jilbab adalah murni perintah Allah bagi wanita yang telah baligh tanpa memandang akhlaq baik atau buruk, sedangkan ahklaq adalah budipekerti yang bergantung pada masing-masing pribadi, jika ada wanita berjilbab tapi akhlaqnya jelek bukan karena jilbabnya tapi karena akhlaqnya, yang berjilbab belum tentu berakhlaq baik, tapi yang berakhlaq baik pasti berjilbab.

Pernikahan adalah sumber masalah jika tujuan kalian menikah adalah selain ibadah, pernikahan adalah ibadah. Sama seperti sholat, sholat juga biang masalah jika kalian melihatnya dari sudut pandang selain ibadah. Menjaga kehormatan dan harga diri adalah hal yang diutamakan, masa iya kalian mau dibilang pemuda pemudi yang tak punya kehormatan dan tak punya harga diri. Tapi kamikan bisa menjaga diri? seloroh kalian, maka kutanya sekali lagi siapa yang menjamin? dan sehebat apa jaminannya? Jika kalian membungkus cinta itu dengan koridor-koridor Islam maka yang menjamin adalah Allah, dialah sebaik-baik penjamin? adakah yang lebih baik wahai adikku??? Sekali lagi hancurkaan keegoisan kalian sebagai pemuda, kalian harusnya cerdas dan reaktif pada hal-hal yang mendiskreditkan agama kalian bukan malah sebaliknya malah reaktif pada hal yang sudah jelas itu adalah tuntunan agama kita.

Mungkin ini tidak bisa merubah kalian, ini hanyalah sedikit langkahku menunjukkan bahwa aku mencintai kalian dan menyayangi kalian karena Allah. Sudah banyak bukti sejarah yang menunjukkan bahwa masa muda adalah penentu untuk masa depan kalian, apakah itu masih belum cukup? sekali lagi aku berdoa pada Allah agar melembutkan hati hati kalian wahai adikku tersayang... aku tidak meminta apapun pada kalian, karena ini adalah kewajibanku. 

Hamba Allah yang Faqir
di sudut kota jakarta

Sabtu, Juli 27

Meraih Janji-Nya

وَعَدَ اللهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى‏ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَني‏ لا يُشْرِكُونَ بي‏ شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi[2] sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa[3], dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam)[4]. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu[5], maka mereka itulah orang-orang yang fasik[6]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-nur-ayat-55-64.html#sthash.MD9Sz6OI.dpuf

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS 24 : 55)

Saya ingin mengajukan pertanyaan jawablah dalam hati dan jujurlah serta teguhkan jawaban dalam hati kecil kalian semua :
1. Siapakah yang paling benar janjinya?
2. Tak inginkah Islam meraih kejayaannya lagi?

Semoga jawaban kalian sama dengan saya (Insya Allah), yang pertama Allah Ta'ala kedua Saya ingin dan siap menjadi barisan dalam mencapai kejayaan islam. Jika memang ini jawaban kita lantas apa lagi yang ditunggu, ayat diatas adalah janji Allah Ta'ala untuk meraih kembali kejayaan Ad-Diin ini.

Pada ayat diatas Allah memberikan kondisi sebelum kejayaan dan setelah meraih kejayaan, namun terhubung oleh sebuah kegiatan yang tak lepas baik setelah dan sesudah kejayaan itu apa itu, ketaatan kepada Allah. Allah menjanjikan sebuah kejayaan serta akan meneguhkan kejayaan dan akan mengganti semua ketakutan ini menjadi rasa aman. Untuk meraihnya dibutuhkan ketaatan yang terimplementasi bukan sekedar ketaatan pribadi tapi ketaatan yang bersifat masal, sehingga ketaatan itu "menular" kepada orang disekitarnya. Singkatnya dibutuhkan insan yang sholeh (kedekatan pribadi dengan Allah Al Aziz) dan muslih (mampu membuat orang lain dekat dengan Allah Ta'ala). Tarbiyah adalah cara terbaik menciptakan prototype semacam ini. Sebagaimana 14 abad yang lalu Rasulullah melakukannya, melahirkan manusia-manusia emas dengan label Jaminan Surga sebut saja Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az Zubair ibnul Awwam, Sa'ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Sa'id bin Zaid, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah dari merekalah mampu mencetak manusia-manusia sholeh plus muslih. 

Tarbiyah bukan segala-galanya tapi segala-galanya dimulai dari tarbiyah.Secara umum, tarbiyah dapat dikembalikan kepada 3 kata kerja yg berbeda, yakni: (1)Rabaa-yarbuu yg bermakna namaa-yanmuu, artinya berkembang. (2)Rabiya-yarbaa yg bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tumbuh. (3)Rabba-yarubbu yg bermakna aslahahu, tawallaa amrahu, sasa-ahuu, wa qaama ‘alaihi, wa ra’aahu, yang artinya masing memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga dan memeliharanya (atau mendidik).
Tarbiyah secara sederhana diartikan pembinaan secara sistematis dan terstruktur. Sistematis berkonsep runut dan kekinian sehingga mudah diterapkan juga diterima oleh siapapun. Terstruktur maksudnya ada yang mengelola bukan serampangan seperti kata Ali bin Abi Thalib kebenaran akan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir (terstruktur). Biarkan Rasulullah yang mengajarkan tarbiyah ini. Diawali dari ajaran islam yang mudah dimengerti dan bersifat doktrin tauhid, sembari melihat kekuatan di setiap sahabat untuk membangun struktur yang kuat. Salah satu doa Rasulullah adalah minta Islam diperkuat oleh 2 orang umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Hisyam), kenapa harus 2 orang itu karena Rasulullah mampu menilai dan melihat kelihaian dan kemampuan mereka. Contoh kenapa Rasulullah memilih Khalid bin Walid menjadi seorang panglima dari pada Umar bin Khattab padahal 2 sahabat nabi dari fisik hingga kefahaman nyaris sama, hanya yang membedakan soal persaan dari masing-masing, Subhanallah betapa membanggakan memiliki guru, murabbi seperti Rasulullah ini. Demikian pula dengan tauhid yang pertama kali diajarkan karena ini adalah pondasi dasar untuk para pejuang Allah karena Rasulullah tau akan banyak bahaya laten yang siap menggoncangkan keyakinan mereka maka dibutuhkan pijakan yang sangat kuat yakni tauhid.

Sobat tarbiyah seperti diatas akan melahirkan orang-orang yang beriman seperti keimanan Abu Bakar yang berani berkata disaat yang lain menganggap Rasulullah gila (peristiwa isra' mi'raj) jika itu Muhammad yang berkata lebih dari itupun aku percaya. Inilah keimanan yang full, tanpa cacat, setidaknya tarbiyah mampu menciptakan manusia yang mirip dengan Abu Bakar. Demikian pula dengan amal yang tak tanggung-2, tarbiyah tidak menciptakan manusia "materialistis" hanya mau menerima materi tarbiyah tapi tidak diamalkan. Inilah yang para sahabat lakukan beramal tanpa kata "afwan" dan banyak alasan. Silahkan baca kisah perang tabuk, betapa amal yang mereka sumbangkan adalah diluar nalar manusia saat ini tapi inilah hasil tarbiyah.

Saat orang-2 seperti ini berkumpul dan telah benar-2 solid maka Allah akan menurunan janjiNya. Allah Ta'ala berkuasa atas segala sesuatu, termasuk kembali mencabut janjiNya saat kejayaan itu telah hadir tapi banyak yang lalai dikarenakan rasa aman yang telah menyebar. Maka Allah Ta'ala kembali ingatkan bahwa setelah kejayaan itupun tak ada yang menyekutukanNya. Lagi-2 untuk tetap mempertahankan janji Allah itu dibutuhkan tarbiyah, karena dalam tarbiyah itu sendiri ada arti menjaga, jadi sekali lagi tarbiyah adalah jalan yang efektif dalam melakukan penjagaan nilai-nilai ini.

Sobat jangan sampai terlewatkan menerapkan tarbiyah dibulan ini, karena Ramadhan adalah bulan tarbiyah, mulailah dengan mentarbiyah diri sendiri demi menjalin kedekatan dengan Allah, setelah itu biarkan Allah yang akan menuntunmu kejalan yang lebih baik, dengan mempertemukan dengan orang-orang yang dicintaiNya, yang mereka akan menuntunmu ke sebuah jalan yang menuju ridho dan cintaNya. Amiin
 
Terimakasih telah berkunjung